Selasa, 25 Januari 2022

Kebenaran di Balik Keanehan Keluargaku


Ini adalah cerita nyata yang sampai sekarang tidak bisa ku percaya telah terjadi kepadaku.

Ketika aku masih duduk di kelas tiga SMP, aku tinggal bersama kedua orang tuaku dan adikku (dia masih duduk di bangku SD). Kami menonton Kohaku Uta Gassen, bagi kalian yang tidak tahu apa itu, Kohaku Uta Gassen adalah acara musik yang diadakan pada malam tahun baru. Setelah menonton acara itu, aku bertanya-tanya apakah aku akan bermimpi indah di malam tahun baru ini, lalu aku pergi ke kamar tidur dan segalanya baik-baik saja, tapi ternyata aku mengalami mimpi buruk di tengah malam (aku tidak ingat apa yang terjadi di mimpi itu), dan tiba-tiba aku terbangun.

Jantungku berdegup sangat kencang sampai aku hampir bisa mendengarnya, dan disekujur tubuhku dari kepala sampai ujung kaki diselimuti keringat. Rasanya seperti seseorang menyiramkan air es ke punggungku, membuatku merasa beku di atas ranjang. 

Mengawali tahun baru dengan mimpi buruk? Well, itu payah, pikirku. Aku tidak bisa kembali tidur dan tenggorokanku kering. Jadi aku keluar dari kamar menuju kulkas di ruang tamu dan di sana ku lihat semua keluargaku duduk di depan TV (aku tidak melihat jam, tapi sepertinya saat itu adalah jam 2 dini hari). TV masih menyala. Meskipun sudah tengah malam dan seharusnya tidak ada acara yang disiarkan, tapi ada berita atau semacamnya sedang diputar saat itu. 

Tapi ada yang aneh, ruang tamu pada saat itu terasa sunyi meskipun keluargaku berkumpul di sana dan TV masih menyala, selain itu semua jendela di ruangan ini terbuka, membuat suhu ruang ini sedingin suhu di luar rumah. Jelas ada yang salah pada saat itu, rasa dingin pun menjalar di tulang punggungku. 

"Apa yang kalian lakukan? Apa kalian sudah gila?" Aku berteriak, setengah marah, setengah takut, dan gemetaran. 

"Well.... Emm..." Ucap adikku, suaranya sangat pelan hampir tak terdengar, dan kemudian dia menangis. Orang tua kami hanya diam melihat, tidak ada ekspresi di wajah mereka, dan lalu mereka bangun dari duduk dan menutup semua jendela, dan berkata kepada adikku yang menangis, "sekarang waktunya tidur," dan membawanya ke kamarnya.

Tahun baru dimulai dengan hal yang buruk dan menakutkan, aku kehilangan rasa kantuk, jadi aku duduk di kamarku dan membaca komik sampai matahari terbit. 

"Apa yang kalian lakukan tadi malam?" Aku bertanya ke orang tuaku di pagi harinya, tapi mereka hanya melihatku seperti, "hah?" Wajah meragukan mereka tidak seperti wajah tanpa ekspresi yang aku lihat semalam, dan tatapan curiga mereka padaku membuatku panik. "Apakah semalam aku melihat hantu?" Aku bertanya-tanya dalam hati. 

Yeah, teman-temanku tidak akan percaya meskipun aku ceritakan, dan pacarku putus denganku bulan desember kemarin, jadi aku mungkin hanya lelah mental dan melihat sesuatu yang aneh. Di malam harinya, aku mengalami mimpi buruk lagi yang membuatku terbangun di tengah malam.

Kali ini, secara samar-samar, aku ingat apa yang terjadi. Di mimpi itu, kepala belakangku dipukul oleh orang asing. Untuk beberapa alasan, kepala belakangku tetap sakit bahkan setelah aku terbangun. Dan untuk beberapa alasan yang tidak bisa ku jelaskan, aku berpikir jika aku ada di toserba, maka aku akan aman (pada saat itu, pikiran ini terasa aneh, karena aku tak tahu sebabnya). 

Aku tidak bisa berhenti berpikir bahwa hantu telah menyerangku, dan dengan panik aku berlari ke ruang tamu. Tidak ada orang di sana, dan tercium bau asap di udara, mungkin dari daging yang kami makan untuk makan malam. Aku teringat kejadian aneh di ruang tamu kemarin, dan sekali lagi, aku tidak bisa tidur di sisa malam itu. 

Sekitar awal bulan februari, tubuhku mulai merasakan rasa gatal yang aneh. Awalnya aku mengira kulitku kering, tapi punggung dan kepalaku khususnya, mulai merasa seakan terbakar, aku tidak bisa berhenti menggaruknya. 

Rasa gatal ini tidak ada tanda-tanda akan membaik, jadi aku memutuskan untuk pergi ke dokter dan mendapat krim penghilang gatal. Aku mengoleskan krim itu di beberapa titik setelah selesai mandi dan adikku tiba-tiba masuk ke kamar. "Biar aku yang oles." Katanya, jadi ku hadapkan punggungku ke arahnya dan hal selanjutnya yang aku tahu adalah, dia menampar punggungku dengan telapak tangannya sekuat tenaga. Itu sangat sakit hingga membuatku teriak, "APA YANG KAU LAKUKAN?"

Dia selalu menangis kapanpun aku marah padanya, jadi matanya segera berkaca-kaca. "Hah, ini dia," Pikirku, dan air mata mengalir turun ke pipinya. Anehnya, wajahnya semakin pucat dan semakin pucat, dan pada akhirnya dia menangis namun tanpa ekspresi.

Ketakutan, aku pun pergi melihat orang tuaku, ternyata mereka juga menangis, sama seperti adikku, wajah mereka menangis tanpa ekspresi. Seakan-akan mereka tidak di sana. Aku pun mendekati mereka, mulut mereka bergerak sedikit seperti mengatakan sesuatu, tapi aku tidak tahu apa yang mereka katakan. Yang aku tahu hanya kata "pa... nas..."

Pada saat itu juga segalanya di sekitar ku berubah menjadi merah, lalu secara bertahap berubah menjadi coklat tua. "Aku kehilangan kesadaranku," pikirku. Lalu pemandangan di sekitarku berubah. Pemandangan ini berubah menjadi sesuatu yang familiar, rumah sepupuku. Paman menatapku dengan ekspresi yang serius di wajahnya. 

"Eh, loh, kenapa aku di sini?" aku tidak dapat memahami situasi yang sedang aku hadapi. Tak lama kemudian, semua orang mengelilingiku. Awalnya aku pikir aku sedang bermimpi lagi, tapi ternyata aku benar-benar di rumah pamanku. Aku tidak tahu apa yang sedang terjadi, tapi untuk beberapa alasan kakek dan nenekku juga ada di sana, dan tubuhku dilapisi perban, jadi aku panik... 

"Bukankah akan lebih baik jika dia tidak ingat?" kata kakekku. 

"Kita harus memberi tahu dia apa yang telah terjadi." kata pamanku. "Mereka masih belum menangkap pria yang sudah melakukan ini, dan polisi pasti akan kembali sebelum minggu depan. "

Pamanku lalu menceritakan segalanya padaku. Nampaknya seseorang membakar rumah kami dan seluruh keluargaku di awal tahun baru. Aku sedang di toserba saat itu terjadi, jadi aku selamat, namun karena nampaknya aku melihat orang yang melakukan pembakaran itu saat di perjalanan pulang, dia lalu memukul bagian belakang kepalaku, mereka memukul sekujur tubuhku sampai aku pingsan. Aku tidak ingat semua peristiwa itu.

Saat itu nampaknya aku terjebak dalam keadaan hidup dan mati di rumah sakit, namun ketika aku pulih mereka mengirimku ke rumah paman. Saat itu bulan maret, yang artinya aku kehilangan ingatanku selama dua bulan terakhirku, dan setelah menjalani rehabilitas selama dua bulan, ingatanku sekarang sudah kembali. 

Aku menangis tersedu-sedu. Aku telah kehilangan ingatan yang penting bagiku dalam sekejap, dan mengetahui itu semua terjadi dua bulan sebelumnya, aku tidak bisa menyimpannya lebih lama lagi. Kakek nenek dan pamanku melihatku yang sedang menangis. Pamanku diam-diam menoleh, dan kemudian kakek nenekku ikut menangis bersamaku. 

Tubuhku penuh dengan memar dan diperban sangat banyak sehingga mirip mummy. Rasa sakit yang menusuk menjalar ke sendiku ketika ku tekuk bagian tubuhku. 

Mengapa semua jendela terbuka di tengah malam musim dingin? Mengapa semua wajah keluargaku seakan tidak memiliki emosi?Mengapa aku bermimpi dipukul orang asing dan pemandangan di sekitarku berubah menjadi merah, kejadian-kejadian itu bagaikan kepingan puzzle yang kini telah terpasang.

Pada akhirnya, polisi tidak pernah menangkap pria itu. Dan ketika perbanku dilepas dari punggungku, mereka menemukan bercak memar berbentuk tangan sebesar telapak tangan adikku. Lima tahun telah berlalu sejak insiden itu, memar yang aku derita perlahan hilang, begitu juga dengan bercak tangan. 

Aku minta maaf jika cerita ini sangat panjang dan tidak ditulis dengan baik. Bagiku, cerita ini adalah insiden yang tidak terlupakan. Cerita ini mungkin tidak menakutkan, tapi ketika aku berpikir tentang si kriminal yang tidak pernah tertangkap, itu membuatku merasa ngeri. 

By the way, terima kasih sudah membaca. 

Source: Kowabana

Selasa, 18 Januari 2022

Pertanyaan yang Tidak Boleh Ditanyakan kepada Kokkuri-san


Kokkuri-san adalah permainan spiritual yang melibatkan pemanggilan roh rubah. Roh rubah ini akan menjawab berbagai pertanyaan yang ditanyakan oleh pemain. Ada beberapa permainan yang serupa dengan Kokkuri-san, seperti Cupid-san dan Angel-sama, namun dalam kasus Kokkuri-san, kamu menggunakan selembar kertas yang dituliskan huruf alfabet Jepang, bersama dengan kata "iya," "tidak," angka 0 sampai 9 dalam bahasa Jepang dan gambar gerbang kuil, lalu di atas kertasnya diletakkan sekeping koin 10 yen.

Setiap orang yang berpartisipasi dalam permainan ini meletakkan ujung jari telunjuk mereka di atas koin tersebut, memanggil Kokkuri-san, dan menanyakan pertanyaan. Koinnya akan bergerak dengan sendirinya untuk menjawab pertanyaan tersebut. Kamu tidak boleh mengangkat ujung jari kamu ketika Kokkuri-san telah dipanggil, dan ketika kamu sudah puas bermain, pastikan kamu meminta Kokkuri-san untuk pergi.

Permainan ini mulai populer pada tahun 1970, banyak insiden bermunculan dari kalangan siswa yang memainkan permainan ini, sehingga banyak sekolah melarang sepenuhnya siswa mereka untuk memainkannya.

Ini adalah salah satu kisahnya:

Dua siswi SMA, si A dan si B, bermain Kokkuri-san di kelas mereka.

"Kokkuri-san, Kokkuri-san, datanglah."

Siswa lain di kelas mereka menyaksikan mereka bermain.

"Siapa yang disukai si O?" "Kapan aku punya pacar?" Mereka menanyakan pertanyaan umum yang sering ditanyakan oleh gadis seusia mereka, dan tentu saja, gadis-gadis lain di kelas itu juga ikut penasaran.

"Siapa kamu?" Si A bertanya, dan tiba-tiba atmosfer di kelas itu berubah. Koin yang disentuh si A dan si B bergerak tidak menentu di atas kertas, tidak berhenti di huruf apapun, mereka ketakutan. Gadis-gadis lain yang menyaksikan takjub melihatnya.

"Suruh dia pergi," teriak seseorang.

"Tolong pergilah sekarang," kata si A, dan koin itu pun berhenti, namun koin itu berhenti di kata "tidak."

"Tolonglah, kau bisa pergi sekarang." mereka memohon lagi dan lagi. Namun koin itu tidak pernah beranjak dari kata "tidak." Ketakutan, si B melepaskan jarinya dari koin itu dan mulai menangis.

"Kau tidak boleh melepas jarimu dari koin," "Kau harus selesaikan permainan ini sekarang," kata gadis yang lain. Dan ketika si A bertanya apa yang harus dilakukan, koin itu bergerak ke huruf "ka" dan "wa."

Ada sungai (kawa) di dekat sekolah. Sambil mencengkram koin itu, si A berlari menuju sungai itu, gadis lain mengikutinya di belakang. Tapi dia tidak tahu harus berbuat apa ketika sudah sampai di sana. Dia melihat ke sekitar, tapi sungai itu terlihat sama saja seperti biasanya.

"Apa aku harus melempar koin ini ke sungai?" dia penasaran. Semua orang berdiskusi tentang apa yang harus dilakukan selanjutnya, ketika tiba-tiba si A merasakan sesuatu merenggut lengan kanannya dan menariknya ke sungai. Kekuatan tak terlihat mencoba untuk menyeret si A, namun gadis lain memegang si A dan mencoba menariknya. Si A semakin dekat ke sungai, menjadi korban tarik tambang yang mengerikan.

"Terbakar.... terbakar.... tangan kananku terbakar," si A berteriak.

"Buang koinnya! Cepat!" teriak gadis yang lain.

"Aku tidak bisa membuka tanganku," si A menangis merengek kecil.

Salah satu gadis mencoba paksa membuka tangan si A, namun sia-sia.

"Tolong aku!"

Bersama-sama para gadis itu berusaha membuka tangan si A dan membuang koin itu ke sungai. Kekuatan tak terlihat yang tadi menarik si A pun tiba-tiba menghilang. Gadis-gadis itu mengatakan kepada si A bahwa tidak ada yang aneh dengan koin itu, koin itu seperti koin 10 yen pada umumnya, namun di telapak tangan si A ada luka bakar berbentuk seperti koin 10 yen.ini akan menjawab berbagai pertanyaan yang ditanyakan oleh pemain. Ada beberapa permainan yang serupa dengan Kokkuri-san, seperti Cupid-san dan Angel-sama, namun dalam kasus Kokkuri-san, kamu menggunakan selembar kertas yang dituliskan huruf alfabet Jepang, bersama dengan kata "iya," "tidak," angka 0 sampai 9 dalam bahasa Jepang dan gambar gerbang kuil, lalu di atas kertasnya diletakkan sekeping koin 10 yen. 

Setiap orang yang berpartisipasi dalam permainan ini meletakkan ujung jari telunjuk mereka di atas koin tersebut, memanggil Kokkuri-san, dan menanyakan pertanyaan. Koinnya akan bergerak dengan sendirinya untuk menjawab pertanyaan tersebut. Kamu tidak boleh mengangkat ujung jari kamu ketika Kokkuri-san telah dipanggil, dan ketika kamu sudah puas bermain, pastikan kamu meminta Kokkuri-san untuk pergi. 

Permainan ini mulai populer pada tahun 1970, banyak insiden bermunculan dari kalangan siswa yang memainkan permainan ini, sehingga banyak sekolah melarang sepenuhnya siswa mereka untuk memainkannya. 

Ini adalah salah satu kisahnya:

Dua siswi SMA, si A dan si B, bermain Kokkuri-san di kelas mereka.

"Kokkuri-san, Kokkuri-san, datanglah."

Siswa lain di kelas mereka menyaksikan mereka bermain. 

"Siapa yang disukai si O?" "Kapan aku punya pacar?" Mereka menanyakan pertanyaan umum yang sering ditanyakan oleh gadis seusia mereka, dan tentu saja, gadis-gadis lain di kelas itu juga ikut penasaran. 

"Siapa kamu?" Si A bertanya, dan tiba-tiba atmosfer di kelas itu berubah. Koin yang disentuh si A dan si B bergerak tidak menentu di atas kertas, tidak berhenti di huruf apapun, mereka ketakutan. Gadis-gadis lain yang menyaksikan takjub melihatnya. 

"Suruh dia pergi," teriak seseorang. 

"Tolong pergilah sekarang," kata si A, dan koin itu pun berhenti, namun koin itu berhenti di kata "tidak."

"Tolonglah, kau bisa pergi sekarang." mereka memohon lagi dan lagi. Namun koin itu tidak pernah beranjak dari kata "tidak." Ketakutan, si B melepaskan jarinya dari koin itu dan mulai menangis. 

"Kau tidak boleh melepas jarimu dari koin," "Kau harus selesaikan permainan ini sekarang," kata gadis yang lain. Dan ketika si A bertanya apa yang harus dilakukan, koin itu bergerak ke huruf "ka" dan "wa."

Ada sungai (kawa) di dekat sekolah. Sambil mencengkram koin itu, si A berlari menuju sungai itu, gadis lain mengikutinya di belakang. Tapi dia tidak tahu harus berbuat apa ketika sudah sampai di sana. Dia melihat ke sekitar, tapi sungai itu terlihat sama saja seperti biasanya. 

"Apa aku harus melempar koin ini ke sungai?" dia penasaran. Semua orang berdiskusi tentang apa yang harus dilakukan selanjutnya, ketika tiba-tiba si A merasakan sesuatu merenggut lengan kanannya dan menariknya ke sungai. Kekuatan tak terlihat mencoba untuk menyeret si A, namun gadis lain memegang si A dan mencoba menariknya. Si A semakin dekat ke sungai, menjadi korban tarik tambang yang mengerikan. 

"Terbakar.... terbakar.... tangan kananku terbakar," si A berteriak. 

"Buang koinnya! Cepat!" teriak gadis yang lain. 

"Aku tidak bisa membuka tanganku," si A menangis merengek kecil. 

Salah satu gadis mencoba paksa membuka tangan si A, namun sia-sia. 

"Tolong aku!"

Bersama-sama para gadis itu berusaha membuka tangan si A dan membuang koin itu ke sungai. Kekuatan tak terlihat yang tadi menarik si A pun tiba-tiba menghilang. Gadis-gadis itu mengatakan kepada si A bahwa tidak ada yang aneh dengan koin itu, koin itu seperti koin 10 yen pada umumnya, namun di telapak tangan si A ada luka bakar berbentuk seperti koin 10 yen.

Source: Kowabana

Ketika Kokkuri-san Tidak Diakhiri dengan Benar


Di antara semua teman perempuanku, ada satu gadis yang mampu melihat hantu. 

Aku pertama kali bertemu dengannya di pesta penyambutan mahasiswa baru di kampus. Dari penampilan luarnya sih dia tidak ada yang aneh, sama seperti gadis pada umumnya. 

Aku tidak tahu apakah dia orang yang tanggap atau tidak, namun indra keenamnya luar biasa. 

Ketika kami sedang berjalan-jalan di kota, tiba-tiba dia berhenti dan berkata "ada kucing mati di suatu tempat di sekitar sini."

Hanya sekedar iseng, akhirnya kami memutuskan untuk mencari bangkai kucing yang dia maksud, dan benar saja, kami menemukan bangkai kucing itu di belakang mesin vending. 

Suatu hari saat kami sedang berada di kedai kopi, dengan sedikit bercanda aku bertanya padanya, "sejak kapan kamu bisa melihat hantu? Dan apa pemicunya?"

"Jangan menyesal sudah bertanya," mulainya. 

Inilah ceritanya:

----

Ketika aku duduk di kelas tiga sekolah dasar, Kokkuri-san sangat populer. 

Pada saat itu aku belum bisa melihat hantu, jadi aku tidak mempercayai hal-hal semacam itu. 

Tapi ada sekelompok anak di kelasku yang benar-benar percaya akan hal itu.

Pemimpin kelompok itu adalah seorang gadis yang bisa merasakan hal-hal supranatural, dan setiap kali mereka bermain, dia selaku berkata "Kokkuri-san benar," dan "ini terjadi tepat seperti yang Kokkuri-san katakan."

Jujur saja, aku sangat tidak menyukai gadis itu. 

Jadi akhirnya aku bertengkar dengan orang yang mengaku bisa melihat hantu itu. 

"Dia ada!" "Dia tidak ada!" begitulah debat tiada akhir kami, namun akhirnya dia berkata "aku akan menunjukkannya padamu," dan aku ikut dengannya. 

Yeah, aku memang agak penasaran apakah hal seperti itu benar ada atau tidak.

Kami berempat, aku dan tiga anggota dari grup itu bersama-sama memainkan Kokkuri-san. 

Kami menunggu sekolah usai lalu menuju ke atap untuk bermain. 

Ternyata itu adalah "titik" terbaik di penjuru sekolah. 

Aku berpikir itu adalah hal bodoh, tapi aku tetap membantu mereka mempersiapkan permainan. 

Kami mengatur beberapa meja yang sudah tidak terpakai.

Dan akhirnya kami mulai bermain. 

Sementara kami terus menerus memanggilnya "Kokkuri-san, Kokkuri-san, datanglah," lalu koin 10 yen bergerak menuju "iya."

Semua orang tampak senang Kokkuri-san telah datang. 

Melihat mereka seperti itu, aku mengira mereka berlagak bodoh, jadi aku bercanda "Kokkuri-san, Kokkuri-san, tolong perlihatkan kami hantu."

Koin 10 yen bergerak menuju "iya."

Lalu semua orang berlari. 

----

Kembali ke masa kini. 

Aku: "..... itu saja?"

Ini mengecewakan. 

Seperti di adegan di mana seseorang membanting pintu dengan keras dan semua orang melompat karena terkejut dan ternyata itu hanya kejutan. 

Ceritanya sendiri terasa tidak lengkap. 

Aku: "apa ada lanjutan dari cerita itu? Tidak mungkin ceritanya begitu saja, kan? Endingnya terlalu lemah."

Aku berkata blak-blakan padanya. 

Kami memang tidak ragu ketika berbicara satu sama lain. 

Dia: "meskipun aku sudah susah payah menceritakan kisah ini kamu masih saja memberi kata-kata kasar, sialan."

Bahkan ketika berkata seperti di atas dia menyeringai. 

Sepertinya cerita di atas belum semuanya dia ceritakan. 

Dia: "jadi aku kembali ke atap lagi keesokan harinya dan set permainan Kokkuri-san yang kami atur kemarin sudah tidak ada. Sepertinya seorang guru menemukannya dan membereskannya."

Dia: "tapi menurut aturan bermain Kokkuri-san, orang yang memanggil Kokkuri-san harus memintanya pulang ke gambar gerbang kuil sebelum benar-benar menghentikan permainan. Namun kami tidak melakukan hal itu."

Dia: "jadi permainan belum berakhir."

Aku merasa kedinginan. 

10 tahun kemudian Kokkuri-san masih terus berlanjut? 

Di mana anak-anak yang memanggilnya pergi? 

Aku: "lalu kenapa kalian semua tidak bermain Kokkuri-san lagi? Menyelesaikan permainan itu dan semuanya akan baik-baik saja."

Dia: "itu tidak mungkin."

Dia: "karena selain aku, mereka yang lain sudah pada mati."

Aku tidak bisa berkata apa-apa lagi. 

Dia melanjutkan ceritanya, mengabaikanku yang shock mendengar ceritanya. 

Dia: "di antara mereka ada yang mati dalam kecelakaan, ada yang mati bunuh diri. Cara mati mereka semuanya berbeda. Pada akhirnya hanya aku yang tersisa. Aku, orang yang terakhir melepaskan jariku dari koin itu masih hidup hingga sekarang."

Dia: "jadi ngomong-ngomong, ini waktunya aku pergi. Kau membuatku menceritakan kisah mengerikan dan ini tanggapanmu? Hey? Sampai jumpa lagi."

Aku tidak bisa berkata apapun. 

Karena dia, beberapa teman sekelasnya mati. 

Aku merasa sedih sudah membuatnya menceritakan kisah yang tidak ingin dia ingat. 

Aku menyesal. 

Aku harus minta maaf. 

Aku melihatnya dan pandangan kami bertemu. 

Dia berhenti mengumpulkan barang-barangnya dan melihatku. 

Dia: "aku sudah bilang jangan menyesal, tapi sepertinya kamu menyesal sekarang, hah?"

Aku mengangguk. 

Sebelum aku sempat meminta maaf dia melanjutkan. 

Dia: "oke, sementara kau kasihan, ada satu hal lagi. Sampai aku lulus SD, aku punya mata yang juling."

Dia menunjuk matanya dan tertawa. 

Sementara aku duduk di sana tercengang, dia dengan riang pergi "oke deh, sampai jumpa lagi!" lalu dia keluar dari kedai. 

Kokkuri-san masih berlanjut selama 10 tahun. 

Dan matanya sangat mengerikan, menghadap ke atas. 

Source: Kowabana

Kokkuri-san


Kokkuri-san adalah permainan sejenis Ouija versi Jepang. Nama permainan ini sendiri terdiri dari gabungan nama ruh hewan yang dipanggil untuk menjawab pertanyaan pemain, mereka adalah; Kitsune (Ko), Anjing (Ku), dan Tanuki (Ri). Kamu memerlukan empat benda ini jika ingin memainkannya:

- selembar kertas
- sebuah pulpen atau pensil
- uang koin 10 yen
- sebuah meja untuk meletakkan kertas dan untuk duduk melingkar

Cara bermain:
1. Mulailah dengan menulis kata "Iya" dan "Tidak" di sisi atas kertas, masing-masing kanan dan kiri. Lalu di antara kedua kata tadi gambarlah sebuah gerbang kuil, gambarnya kecil saja. Lalu, di bawah kedua kata dan gambar gerbang kuil tadi tulislah huruf alfabet dan angka dalam bahasa Jepang.
2. Dua atau tiga pemain duduk melingkar di atas meja dan letakkan koin 10 yen di atas kertas. Setiap pemain letakkan ujung jari telunjuk mereka di atas koin dan panggillah Kokkuri-san. 
3. Para pemain memanggil dengan cara seperti ini, "Kokkuri-san, Kokkuri-san, datanglah. Jika kamu di sini, tolong katakan "Iya"." dan uang koin 10 yen itu akan mulai bergerak. 
4. Kamu tanyakan pertanyaan yang ingin kamu tanyakan. Dan koin akan bergerak untuk mengeja jawaban atas pertanyaan kamu. 
5. Ketika sebuah pertanyaan telah terjawab, pemain harus berkata "tolong kembalilah ke gerbang kuil," dan koin akan bergerak. 
6. Ketika kamu sudah puas bermain dan ingin mengakhiri permainan, katakanlah, "Kokkuri-san, Kokkuri-san, tolong kembalilah," dan ketika koin bergerak ke "iya" lalu ke gerbang kuil, pemain berkata "terima kasih," dan permainan pun berakhir.

Poin penting yang harus diingat:
- Jangan memainkan permainan ini sendirian. 
- Jangan memainkan permainan ini untuk prank. 
- Jangan memainkan permainan ini jika kamu penakut atau lemah secara mental. 
-Jangan melepaskan jari telunjuk kamu ketika sudah menyentuh koin. 
- Kamu tidak boleh bermain dengan setengah-setengah, patuhi petunjuk cara bermain. 
- Jika Kokkuri-san tidak mau kembali, tetap mohon dia kembali sampai dia mau. 
- Sobek lah kertas yang sudah digunakan untuk bermain menjadi 48 potong di hari yang sama, dan pastikan untuk menghabiskan uang koin 10 yen maksimal tiga hari setelah melakukan permainan. 

Sejarah:
Pada tahun 1970, sebuah manga berjudul Ushiro no Hyakutaro menampilkan karakter yang sedang bermain Kokkuri-san. Karena manga tersebut, permainan Kokkuri-san menjadi populer di kalangan anak-anak sekolah dasar dan sekolah menengah. Banyak anak-anak yang memainkan permainan ini untuk bersenang-senang, namun ketika permainan ini mulai mempengaruhi mental anak-anak tersebut, para guru dan orang tua dipaksa untuk mulai bertindak melarang anak-anak memainkan permainan ini. Ada rumor yang mengatakan bahwa anak-anak mulai gila bahkan dilarikan ke rumah sakit setelah memainkan permainan ini. 

Dalam perkembangan zaman, ruh yang dipanggil dalam permainan ini bisa berbeda-beda. Ruh yang dipanggil bisa saja ruh anak kecil yang sudah meninggal, malaikat atau makhluk lain. Namun untuk yang terpenting, selalu ikuti peraturan permainan ini, karena jika tidak dilakukan dengan benar, dikatakan akan membuat para pemain dikutuk, dan dalam kasus yang lebih ekstrim akan mengarah pada kematian dan bunuh diri. 

Zaman sekarang permainan ini memiliki banyak nama, seperti "Cupid-san," "Kirakira-sama," "Angel-sama," dan "Guardian Spirit." Namun, Kokkuri-san masih populer dan masih bertahan hingga sekarang.

Source: Kowabana

Magagami-sama


Ada gunung di desa tempat tinggal nenekku, dan di gunung itu ada sesuatu yang sangat indah, kolam hijau zamrud. Kolam itu berwarna hijau kebiruan, seperti warna pastel transparan, atau apalah itu namanya, kolam itu sangat indah. Namun, anak kecil dilarang mendekati kolam itu.

Setiap kali aku bertanya kenapa, jawabannya selalu sama. "Anak kecil tidak perlu tahu. Pokoknya jangan kesana". Tapi, anak kecil tetaplah anak kecil, tentu aku penasaran dan ingin tahu lebih banyak tentang kolam itu. Aku bertanya kepada nenekku dan orang-orang dewasa di desa tentang hal unik dari kolam itu. Jika kolam itu memang benar-benar indah maka aku ingin melihatnya secara langsung. 

Anak kecil lain di desa pun berpikiran sama denganku, dan kapan pun aku mengunjungi desa, kami mulai membicarakan tentang mengunjungi kolam itu. Tapi larangan orang dewasa tentang mengunjungi kolam itu benar-benar ketat, ada rumor yang tersebar di kalangan anak-anak, "Jika kamu pergi ke kolam itu, kamu tidak akan pernah kembali".

"Aku dengar kolam itu tidak memiliki dasar, jadi jika kamu jatuh ke dalam kolam itu, kamu akan mati", kata orang-orang, jadi kami tidak pernah merealisasikan rencana kami. 

Namun ketika aku duduk di bangku SMP dan kembali mengunjungi desa nenekku, anak-anak yang dulu pernah bermain denganku saat masih kecil ( Taro, Jiro, dan Hanako. Taro dan Jiro adalah saudara kembar, sedangkan Hanako adalah sepupu mereka) berpikir "kalau memang benar kamu tidak bisa kembali jika mengunjungi kolam itu, bagaimana mungkin orang-orang tahu wujud kolam itu?".

Mereka mulai mengatakan sesuatu yang lebih realistis tentang kolam itu, dan aku setuju. Pada akhirnya kami sampai pada kesimpulan "apakah kolam itu benar-benar ada dan bukan karangan mereka saja?". Dengan kesimpulan itu, kami memutuskan untuk "ayo kita lihat kolam itu".

Kami bertemu di gunung pada pagi hari. Gunung itu sendiri sebenarnya kecil, jadi bahkan jika kami tersesat, kami bisa menemukan jalan pulang sebelum malam tiba, jadi kami tidak akan membuat situasi menjadi serius. Khususnya karena aku, Taro dan Hanako sekarang adalah siswa SMP, dan Jiro yang sudah kelas 2 SMP bahkan belajar beladiri Judo, dia bilang jika keadaan kacau seperti diserang beruang atau anjing liar, maka dia akan membanting dan mengalahkannya, haha. Kata-kata Jiro membuat kami merasa lebih baik, meskipun kami tahu itu tidak mungkin. 

Ketika kami sedang membicarakan hal di atas dan mulai lelah karena sudah berjalan selama sekitar tiga jam, kami menemukan tempat aneh di mana pepohonan tumbuh sangat rimbun. Aku tidak bisa menjelaskan secara detail, tapi pohon di sana sangat banyak, seakan-akan ditanam secara paksa. Bahkan tidak ada jejak hewan terlihat.

"Kolam itu pasti di sana, lihat saja, tempat ini mencurigakan", kata Hanako dari garis depan. Hanako adalah gadis tomboy, meskipun kami yang adalah laki-laki gemetaran melihat tempat itu, dia malah mulai melewati pepohonan itu melalui celah antar pohon di depan kami. 

Tidak ada yang bisa kami lakukan, jadi kami pun mengikutinya. Lalu, sesuai dengan apa yang ada di pikiran kami, ada kolam di sana. Pusat Bumi? Atau apalah itu nama filmnya, kolam itu seperti di salah satu scene di film itu. Faktanya, kolam itu lebih jernih daripada yang aku bayangkan, sangat indah. Tapi, terima kasih kepada pohon-pohon itu, berkat mereka kolam ini terkesan suram, dan gubuk kecil? Di sebelah kolam? Sangat merusak pemandangan. 

Awalnya kami semua sangat senang, kami bahkan mengumpulkan air kolam ke botol yang sudah dipersiapkan Hanako. Namun gubuk kecil itu membuat kami gelisah. Daripada disebut kecil, sebenarnya gubuk itu panjang. Lihat saja, gubuk itu kotor dan menakutkan. Seakan-akan penyihir gunung atau sesuatu yang lain tinggal di sana. 

Lalu Jiro berkata "jika ada penyihir gunung di dalam, maka aku akan membantingnya", lalu ia masuk ke dalam. Kami akan ikut masuk ke dalam, namun tiba-tiba Taro berteriak "tidak, aku tidak akan masuk. Aku akan tetap di sini." Hanako kesal dengan sikap Taro yang pengecut, namun Taro tetap keras kepala memilih di luar. 

"Kalau kamu masuk, maka hanya kamu dan Jiro yang boleh masuk. Ume (namaku) dan aku akan menunggu di luar. Oke?". Untuk beberapa alasan aku memilih untuk menahan diri. Meskipun takut, aku sebenarnya ingin masuk ke dalam gubuk kecil itu, tapi aku khawatir sesuatu yang buruk akan terjadi pada Taro. Aku melambaikan tangan pada Jiro dan Hanako ketika mereka memasuki gubuk lalu duduk di tepi kolam untuk berbicara kepada Taro. 

"Kenapa kamu tidak mau masuk ke dalam? Apa kamu takut?"

"Aku tidak suka gubuk itu, itu menakutkan."

"Lalu kenapa kamu memperbolehkan Hanako dan Jiro masuk ke dalam?"

"Hanako selalu kasar kepadaku, aku benci padanya. Jiro selalu berlagak tangguh, tapi itu cuma kata-kata saja jadi aku juga membencinya. Jadi terserah, jika mereka mati aku tidak peduli."
"Hanako selalu berlagak kuat dan hebat, dia memperlakukan aku seperti sampah. Jiro selalu memukulku. Aku benci mereka berdua. Mereka harus mati. Aku harap mereka mati. Itulah mengapa aku kemari, agar Magagami-sama membunuh mereka untukku."

Di antara kalimat yang keluar dari mulut Taro, ada kata yang asing di telingaku, jadi aku mengulangnya. 

"Magagami-sama? Apa itu?"

"Tidak ada anak-anak di desa tahu tentang dia. Jiro dan Hanako juga tidak tahu, karena mereka idiot. Tapi aku tahu. Magami-sama tinggal di sini. Wanita tua bernama Kichizu yang memberi tahu ku tentang dia. Karena aku pintar."

"Iya, tapi Magagami-sama itu apa?"

"Ume, kamu baik kepadaku, jadi aku akan menolongmu, tapi aku tidak bisa melakukan apapun untuk Jiro dan Hanako. Mereka bodoh, mereka berlagak tangguh, mereka idiot, mereka harus mati. Magagami-sama akan membunuh mereka untukku."

Kata-kata Taro mulai terdengar kasar dan terkesan mengutuk. Di beberapa titik, dia mulai berhenti menyebut Jiro dan Hanako dengan nama mereka. 

Taro terus berbicara, tidak lama kemudian dia mulai tertawa dengan cara yang aneh. "Hyoa hyoa hyoa hyoa hyoa hyoa hyoa hyoa hyoa hyoa hyoa hyoa hyoa hyoa hyoa hyoa hyoa hyoa hyoa hyoa hyoa hyoa hyoa hyoa."

"Hyoa hyoa hyoa hyoa hyoa hyoa hyoa hyoa hyoa hyoa hyoa hyoa hyoa hyoa hyoa hyoa hyoa hyoa hyoa hyoa hyoa hyoa hyoa hyoa hyoa hyoa hyoa hyoa hyoa hyoa hyoa hyoa hyoa hyoa hyoa hyoa hyoa hyoa hyoa."

Itu sangat mengganggu. Dia duduk di sana dengan tangannya melingkar di kedua lututnya namun dengan wajah yang melihat ke arahku ketika tertawa. Semua yang aku lihat ini seakan mengatakan dia mulai gila.

Lalu aku mulai sadar bahwa Jiro dan Hanako sudah lama pergi. Aku ingin menjauh dari Taro, jadi aku berjalan menuju gubuk. "Tetap di sini jangan menyusul mereka!" Taro memanggil. "Sudah terlambat~" Dia tersenyum.

Wajahnya membuat perutku mual, tapi aku mengabaikannya dan masuk ke dalam. Gubuk itu sangat gelap dan ada bau aneh di sana. Baunya seperti bau sesuatu yang terbakar, atau sesuatu yang busuk. Semakin dalam aku masuk semakin mual rasanya, lalu dari ujung ruang di gubuk itu aku mendengar suara tawa yang aneh. "Hyoa hyoa hyoa hyoa hyoa hyoa." Dengan terpaksa aku masuk ke dalam, dan menemukan Jiro dan Hanako sedang duduk di lantai.

"Hyoa hyoa hyoa hyoa hyoa hyoa hyoa hyoa hyoa hyoa hyoa hyoa."
"Hyoa hyoa hyoa hyoa hyoa hyoa hyoa hyoa hyoa hyoa hyoa hyoa."

Mereka tertawa persis seperti Taro di luar. Itu membuatku ketakutan. Aku harus memanggil seseorang. Aku berbalik. Lalu, tepat di depan wajahku.... 

... sepasang mata putih menatap ke arahku. 

Mata putih, seperti mata orang butabuta, seperti membran putih yang menutupi pupil mata. Aku menjerit ketakutan dan mundur ke belakang sampai menyentuh dinding. Ketika tubuhku menyentuh dinding, aku merasakan sesuatu yang lengket. Aku menyentuhnya bagian dinding yang lain, ternyata juga lengket. Kotor kotor kotor kotor! Aku ingin segera keluar, tapi aku tidak bisa bergerak karena mata putih itu, jika aku bergerak maka mereka akan mengejarku, aku sangat ketakutan. 

Mata putih itu terus menatapku. Apa aku akan dikutuk dan mati? Pikirku. Aku tidak ingin melihat mata itu lagi, jadi aku memalingkan wajahku ke kanan. Ketika aku melakukannya, 

"Aku sudah bilang, itu sudah terlambat~"

Wajah Taro masuk setengah ke dalam jendela. Mata Taro sama putihnya seperti mata yang sedang menatapku. 

"Hyoa hyoa hyoa hyoa hyoa hyoa hyoa hyoa hyoa hyoa hyoa hyoa hyoa hyoa hihihihihihihihihihi hyahahahahahaha hyahahahahaha hyoa hyoa hyoa."

Setengah gila, aku lari dari gubuk itu dan menuruni gunung. Dari belakang aku terus mendengar "Hyoa hyoa hyoa hyoa hyoa." Dengan air mata dan isi hidung kental yang meler ke mana-mana aku berlari melarikan diri. 

Ketika aku telah mencapai kaki gunung, ternyata saat itu masih siang. Setelah menuruni gunung, orang pertama yang ku lihat adalah kakek ketiga temanku di sana (Jiro, Taro, dan Hanako). 

"Ume! Ada apa, kau... kau! Kauuuuu!!!!!" Kakek mereka yang selalu ramah berlari ke arahku dengan kecepatan luar biasa, bintik-bintik air liur mengalir dari mulutnya. 

Kami naik ke gunung dan melihat kolam dan gubuk. Cerita Taro. Mata putih dan dinding yang lengket. Ketiga temanku yang menjadi gila. Mereka masih ada di sana. 

Aku menggigit lidahku ketika aku berbicara. Kamu harus menyelamatkan mereka. Mata putih itu apa? Apakah aku juga sudah kena kutukan? Aku berteriak. Kakek mereka memelukku dan berkata "Tidak apa-apa, tidak apa-apa. Cuma kamu, Ume, kamu baik-baik saja. Kamu selamat, kamu baik-baik saja."

Hanya aku? Bagaimana dengan Taro? Cucunya itu Taro, bukan aku, kenapa dia tidak khawatir? Aku mulai panik, tapi kemudian aku sadar tidak ingin agar benda lengket itu menempel pada kakek mereka, jadi aku menarik diri dari kakek. Lalu aku melihat apa yang menempel pada tubuhku. 

Benda lengket ini terlihat seperti mayones, tapi berbintik hitam dan merah. Teksturnya juga seperti mayones, dan baunya menyengat menusuk hidungku. 

Ingatanku tentang kejadian itu berakhir di situ. Hal selanjutnya yang aku tahu adalah aku terbaring di lantai rumah nenekku dikelilingi orang-orang dewasa.

Orang tuaku menangis. Mereka duduk di dekatku tapi tidak mencoba untuk berbicara padaku. Begitu juga dengan orang lain. 

Orang tua Jiro dan Taro juga di sana, mereka menatapku sambil menangis dalam diam. Lalu aku menyadari bahwa aku tidak bisa bergerak. Aku tidak diikat atau apapun, tapi untuk beberapa alasan aku tidak bisa bergerak. 

Aku juga tidak bisa berbicara. Apa ini, pikirku, mulai panik, ketika nenek Taro mendekat dan berbicara padaku. "Ume, lihat mata kananku, mau?"

Nenek Taro kehilangan mata kanannya pada kecelakaan di masa silam, jadi dia menggunakan mata palsu. Aku sudah tahu itu, apa bagusnya melakukan hal itu, tapi aku menuruti perintahnya. 

"Apa? Sama saja nek, fokusnya agak aneh, tapi itu matamu."

Tiba-tiba aku bisa berbicara. Para orang dewasa berseru kegirangan, "aku sangat bersyukur", "dia terselamatkan", mereka semua menangis dan saling berpelukan satu sama lain. 

Orang tuaku memelukku sambil menangis, bahkan orang tua Taro juga menangis. "Kami sangat bersyukur, Ume. Sangat bersyukur." Tapi aku merasa merinding. Meskipun anakmu mungkin menjadi gila, mengapa kamu bahagia dan tidak mengucapkan kata-kata marah kepadaku, pikirku. 

"Bagaimana dengan Jiro, Taro dan Hanako? Apa yang terjadi kepada mereka?" Tanyaku. 

Namun para orang tua menjawab:

"Kamu bicara apa? Mereka ada di rumah. Ume, jika kamu bisa mengambil pelajaran dari kejadian ini, jangan naik ke gunung itu lagi sendirian."

Oh, jadi begitu ya? 

Taro dan yang lainnya mungkin dikurung di gudang nenek mereka atau semacamnya karena mereka sudah gila. Memahami itu, aku tidak mengatakan apa-apa.

Dua atau tiga hari kemudian adalah saatnya aku pulang ke rumah bersama orang tuaku. Aku tidak pernah melihat Taro dan yang lainnya setelah kejadian itu. Bahkan di antara orang-orang yang datang untuk mengantar kepergian kami pun Taro dan yang lain tidak ada.

Nenekku masih sehat sampai sekarang usiaku sudah menginjak 20-an tahun dan aku mengunjunginya saat pergantian musim. Penduduk desa masih ramah, orang tua Taro juga masih bersikap sama padaku, sedangkan Taro dan yang lain masih juga tidak terlihat olehku. 

Ketika aku menanyakan tentang mereka, aku mendengar bahwa Hanako sudah menikah dan pindah ke Tohoku, Taro dan Jiro keduanya mulai bekerja di perusahaan yang sama dan pindah menyeberangi laut. 

Ketika mereka bertiga menduduki bangku SMA, mereka bersekolah di Tokyo. Entah hal itu benar atau tidak, tapi sejak kejadian itu aku tidak pernah melihat mereka lagi.

Aku tidak tahu mata putih dan benda lengket itu apa. Magami-sama itu apa. Di mana Taro dan yang lainnya. Wanita tua Kichizu yang diceritakan Taro itu siapa dan bahkan tidak ada penduduk desa bernama seperti itu. Bertahun-tahun sejak kejadian itu tidak ada yang terjadi kepadaku, tidak ada yang berubah. 

Aku tidak pernah melihat mata putih dan benda lengket itu lagi. Aku bertanya kepada orang tuaku dan penduduk desa tentang hal itu lebih lanjut, tapi mereka hanya bilang: "itu hanya mimpi, kamu naik ke atas gunung sendirian lalu turun dan menderita sengatan panas." "Kolam? Aku tidak tahu apapun tentang kolam, aku baru dengar pertama kali tentang itu."

Ketika aku menanyakan pertanyaan yang sama kepada anak-anak yang biasa membicarakan rumor tentang kolam, mereka dengan tenang menjawab, “aku tidak tahu apa-apa tentang kolam.”

Source: Kowabana