Jumat, 11 Februari 2022

Lokasi Berhantu Paling Berbahaya di Utara Kanto


Ini terjadi sekitar dua tahun yang lalu. Kisah ini tidak ada hubungannya dengan hal-hal yang berbau supranatural dan mungkin jika dibandingkan dengan cerita-cerita seram kalian ceritaku ini bukan apa-apa, tapi ini benar-benar membuatku ketakutan, jadi aku akan sangat senang jika kalian mau membacanya. Oh iya, orang-orang akan tahu lokasi pasti kisah ku ini jika aku menyebutkan nama tempat dengan jelas, jadi mohon maafkan aku jika harus memalsukan nama tempatnya. 

Jadi, beginilah ceritanya... 

Aku dan beberapa teman ku yang bodoh membeli sejenis "peta hantu" di sebuah toserba saat musim panas dan akan kami gunakan sebagai panduan kami mengunjungi bermacam-macam tempat berhantu.

Kampung halaman ku adalah sebuah desa kecil di bawah kaki gunung terkenal yang dianggap suci oleh masyarakat sekitar, di sana ada banyak kuil dan candi terkenal dibangun berjajar. Bisa dibilang, lokasi ini adalah "harta karun"nya tempat berhantu di seluruh wilayah Kanto.

Peta hantu ini menunjukkan banyak tempat, seperti jembatan, air terjun, dan terowongan tempat hantu perempuan korban kecelakaan bergentayangan pun ada. Ada banyak hal-hal semacam ini di peta itu. 

Tidak seperti kota-kota besar, tidak banyak yang bisa kamu lakukan ketika tinggal di gunung. Tidak lama kemudian kami sudah mengunjungi semua tempat-tempat berhantu yang bisa kami kunjungi (baik itu aku atau teman ku, tidak ada di antara kami yang bisa melihat hantu, jadi kami tidak pernah melihat hantu secara langsung), jadi ketika kami berdiskusi kemana selanjutnya akan pergi, salah satu teman ku menyarankan sesuatu. 

"Aku pernah mengunjungi situs internet yang memiliki daftar tempat-tempat berhantu, dan tampaknya ada banyak tempat-tempat seperti itu di Kanto Utara", dia tidak membacanya dengan detail saat itu, jadi kami melihat blog itu lagi untuk memutuskan kemana akan pergi selanjutnya. 

Dengan mudah kami menemukan blog itu. Pemilik blog itu tinggal di Tokyo dan telah mengunjungi berbagai tempat berhantu di Tokyo, Kantor, dan bahkan Tohoku, mengunggah foto-foto yang diabadikan dan menulis laporan kunjungannya di blog. Blog ini mencantumkan sebuah tempat yang disebut "tempat paling beraura jahat yang ada di Kanto Utara", aku hampir tidak dapat menahan rasa senangku ketika mengeklik tautan yang berisi tempat menarik yang akan kami kunjungi. 

Judulnya saja sudah membuat bulu kuduk ku merinding. "Sungai yang diwarnai oleh darah, rawa-rawa yang berpusar dengan kebencian dari mereka yang terbunuh dalam kecelakaan~", judul-judulnya kurang lebih seperti itu. 

Pemilik blog ini berkendara menggunakan mobil untuk menuju ke lokasi berhantu itu, tapi semakin dia atau mereka (tidak jelas apakah blog itu dikelola oleh satu orang atau beberapa orang) dekat dengan lokasi yang dituju, mobil yang mereka kendarai mulai sering mogok dan mesinnya bermasalah, padahal baru saja diservis. Mereka nampaknya merasa bahwa kedatangan mereka tidak disambut dengan baik di tempat itu (oleh hantu di situ?). 

Melihat itu, aku setengah bercanda, "beberapa orang ada yang seperti itu ya? Merasa mereka seperti media roh gadungan atau sejenisnya? Hehe". Tapi ketika aku membaca komentar artikel tersebut, terlihat beberapa pengunjung blog setuju dengan mereka. "Aku juga mendengar suara mengerikan di telingaku ketika kesana", "aku mendengar suara dalam yang sepertinya berasal dari dalam tanah ketika aku melewati sebuah jembatan yang terkenal, dan suara itu seperti sedang berkata 'pergi, orang luar'".

Aku terus membaca, tidak percaya dengan apa yang ku lihat, namun ada beberapa tempat yang menarik perhatianku. Foto-foto yang diposting pemilik blog mengarah ke tempat berhantu terkutuk dari Kanto, itu adalah tempat-tempat yang aku kenal… Kalau dipikir-pikir, ada sungai yang berjarak kurang dari satu menit dengan berjalan kaki dari rumah orang tua ku di mana banyak sekali orang meninggal di kecelakaan kereta jauh sebelum aku lahir.

Lalu akhirnya artikel itu menyadarkan ku. 

Parahnya, tempat paling berhantu di wilayah Kanto Utara..... adalah kampung halaman ku. 

Yang pasti, banyak orang meninggal dalam kecelakaan kereta itu, dan sebelum insiden itu, sekelompok anak juga yang meninggal secara misterius di suatu acara festival. Aku juga tahu bahwa awalnya salah satu huruf kanji yang digunakan untuk nama tempat di kampung halaman kami bukanlah huruf yang baik, jadi mereka menggantinya dengan huruf yang lebih baik yang jika dibaca memiliki makna yang sama.

'Betapa bodohnya, tidak mungkin,' pikirku, dan semakin aku membaca, semakin kesal aku dibuatnya. Saat itulah Higurashi no Naku Koro ni (sebuah visual novel bertema pembunuhan misterius) mulai populer, sehingga pemilik blog membesar-besarkan perilaku “mencurigakan” penduduk setempat. Dia menulis hal-hal seperti, "Para wanita tua yang tertawa itu menatapku diam-diam, tanpa ekspresi, ketika aku lewat," dan hal-hal seperti itu. Maksud ku, aku tidak tahu bagaimana di Tokyo, tetapi di kota kami, jika seseorang masuk yang tidak kami kenal, orang-orang akan melihat mereka. Itu tidak dilakukan dengan niat buruk.

Ketika pemilik blog selesai "mengoceh" segala hal, mereka mengakhiri artikel itu dengan satu foto tempat paling jahat dan berbahaya yang tidak boleh kamu dekati di area itu.

Rumah orang tua ku lah yang ada di foto itu, bersama dengan beberapa rumah tetangga.

Pada saat itu, aku terkejut bahwa rumah ku dianggap sebagai tempat berhantu paling berbahaya di seluruh Kanto utara. Melihat komentar dari orang-orang asing itu membuatku tertekan juga. “Hanya dengan melihat tempat itu membuatku merinding.” “Aku bisa tahu hanya dari atmosfernya bahwa ada berbagai macam roh jahat berkerumun di sekitar area itu, apakah kesehatanmu baik-baik saja setelah mengunjunginya?” "Tidak dapat disangkal bahwa sesuatu yang mengerikan pasti telah terjadi di gudang itu, ya kan?" Oh ayolah, mereka berbicara tentang kandang tempat kami memelihara ayam dan burung puyuh kami!

Jika kalian sekarang atau nanti ingin mengakses blog itu, kalian sepertinya akan kecewa karena blog itu sudah tidak ada (mungkin mereka menutupnya?). 

Oh iya, maaf ya jika kisah ku tidak menakutkan. Tapi bagiku, kisah ini bukanlah bahan tertawaan. 

Terimakasih sudah membaca... 

Source: Kowabana

Rabu, 09 Februari 2022

Kasus Hilangnya Brian Shaffer yang Membagongkan


Brian Shaffer, lahir pada tanggal 25 Februari 1979, adalah seorang mahasiswa kedokteran berkebangsaan Amerika Serikat yang menempuh pendidikan di Ohio State University. Di suatu malam pada tanggal 31 Maret 2006, Brian pergi bersama teman-temannya untuk merayakan pesta awal liburan musim semi; lalu kemudian Brian berpisah dengan teman-temannya dan mereka berasumsi Brian sudah pulang ke rumah. Namun, sebuah kamera CCTV di dekat pintu masuk bar merekam Brian sedang mengobrol singkat dengan dua orang wanita sebelum pukul 2 dini hari pada tanggal 1 April 2006, dan lalu masuk kembali ke dalam bar tanpa ada bukti yang menunjukkan Brian keluar dari dalam bar. Brian tidak pernah terlihat dan terdengar lagi sejak saat itu. Kasus ini pun menjadi perhatian media nasional. 

Kasus menghilangnya Brian meninggalkan misteri bagi para penyelidik, pasalnya tidak ada akses masuk dan keluar selain pintu depan yang dilewati Brian seperti yang terekam CCTV. Polisi memiliki beberapa teori tentang apa yang sedang terjadi pada kasus ini; kecurigaan mengarah kepada salah satu teman Brian yang menemaninya berpesta pada malam itu namun menolak untuk melakukan tes pendeteksi kebohongan tentang kasus yang sedang terjadi, dugaan terlibatnya Smiley face si pembunuh berantai, hingga spekulasi bahwa Brian masih hidup dan tinggal di tempat lain dengan identitas baru. 

Brian Shaffer tumbuh besar di Pickerington, Ohio, sebuah daerah pinggiran kota di luar Columbus, ia adalah anak pertama dari dua bersaudara dari pasangan Randy Shaffer dan Renee Shaffer. Brian lulus dari SMA lokal pada tahun 1997 dan melanjutkan pendidikan sarjananya di Ohio State University. Enam tahun kemudian Brian lulus dengan menyandang gelar sarjana di bidang mikrobologi.


Setelah itu, Brian melakukan studi di Fakultas Kedokteran Ohio State University pada tahun 2004. Di tahun keduanya di sana, ibunya Brian, Renee Shaffer, meninggal karena mielodisplasia (sekumpulan penyakit yang disebabkan oleh kerusakan sel darah). Menurut keterangan temannya Brian, meskipun terlihat tangguh menghadapi kematian sang ibu, namun Brian sebenarnya merasa sangat terpukul akan kematiannya. 

Selama bersekolah di kedokteran, Brian memiliki hubungan romantis dengan mahasiswi kedokteran lain bernama Alexis Waggoner. Alexis beserta keluarga dan teman-temannya yakin bahwa Brian akan melamarnya pada tahun 2006 saat mereka akan liburan di Miami pada musim semi bulan April seperti yang mereka rencanakan. Wilayah tropis seperti Miami adalah tempat kesukaan Brian, karena Brian adalah tipikal pria yang suka hidup santai. Brian juga pernah berkata kepada teman-temannya bahwa meskipun ia mengejar karir di kedokteran, namun ambisi sebenarnya adalah membuat band musik seperti Jimmy Buffet (seorang musisi Amerika). 

---

Pada tanggal 31 Maret, hari Jumat, kelas di OSU (Ohio State University) berakhir untuk liburan musim semi minggu depan. Brian dan ayahnya, Randy, merayakan kesempatan itu dengan pergi untuk makan malam steak bersama malam itu. Randy melihat bahwa Brian tampak lelah karena harus begadang di awal minggu karena harus mengerjakan beberapa ujian penting yang akan datang. Dia berpikir Brian tidak harus pergi keluar dengan seorang teman, William "Clint" Florence, nanti malam seperti yang dia rencanakan, tetapi tidak mengungkapkan keberatannya kepada putranya itu. 

Pukul 9 malam, Brian bertemu Florence di Ugly Tuna Saloona, sebuah bar di kompleks South Campus Gateway di High Street, Columbus. Satu jam kemudian, Brian menelepon Alexis, yang telah kembali ke rumahnya di Toledo setelah mengunjungi keluarganya sebelum dia dan Brian dijadwalkan berangkat ke Miami. Brian dan Florence pergi melakukan bar-hopping (mengunjungi banyak bar dalam satu malam), mengunjungi beberapa tempat minum lain dan berjalan menuju Distrik Arena.


Setelah tengah malam, Brian dan Florence bertemu Meredith Reed, teman Florence, di The Short North. Reed memberi mereka tumpangan kembali ke Ugly Tuna Saloona, di mana mereka memulai malam itu, dan bergabung dengan mereka di sana. Sementara ketiganya ada di sana, Brian berpisah dari teman-temannya.

Florence dan Reed berusaha mencari Brian dan berulang kali meneleponnya. Mereka keluar dari bar itu bersama pengunjung yang lain pada pukul 2 dini hari ketika bar akan tutup, menunggu Brian di luar. Ketika mereka sadar Brian tidak ada di antara para pengunjung bar yang keluar, mereka berasumsi Brian telah pulang tanpa memberi tahu mereka. Alexis dan ayah Brian mencoba menelepon Brian saat akhir pekan, namun tidak ada jawaban. Pada senin pagi, Brian melewatkan penerbangannya bersama Alexis ke Miami yang sudah dijadwalkan jauh hari. Brian lalu dilaporkan menghilang ke kepolisian Columbus. 

---

Polisi memulai pencarian Brian di bar Ugly Tuna Saloon, tempat di mana Brian terakhir kali terlihat. Karena area sekitar South Campus Gateway memiliki tingkat kejahatan tinggi, pihak bar memasang CCTV guna meningkatkan keamanan. Mereka meninjau rekaman CCTV yang menunjukkan Brian, Florence dan Reed sedang memasuki eskalator ke pintu masuk utama bar pada pukul 1:15 dini hari, kemudian pada pukul 1:55 Brian terlihat lagi sedang berbicara dengan dua orang wanita di luar bar, perbincangan itu hanya sebentar lalu Brian tampak berpamitan kepada dua orang wanita itu dan masuk lagi ke dalam bar. Selanjutnya kamera di pintu masuk tidak menunjukkan Brian yang sedang keluar dari bar, dengan kata lain nampaknya Brian hilang di dalam bar itu.

Polisi memiliki beberapa kemungkinan. Yang pertama, bisa saja Brian mengganti pakaiannya di bar dan menggunakan topi lalu keluar dari bar dengan menundukkan kepala guna menyembunyikan wajahnya dari kamera. Kedua, kamera pengawas mungkin saja luput saat Brian keluar dikarenakan meskipun salah satu kamera mengawasi seluruh area secara konstan namun kamera yang lain dioperasikan secara manual. Ketiga, Brian mungkin meninggalkan bar melalui akses yang lain. Namun, satu-satunya akses selain pintu utama adalah pintu khusus karyawan yang tidak digunakan untuk umum. Namun, pada saat itu, akses sedang terhalang oleh pekerjaan konstruksi, yang mana menurut petugas polisi akan sangat sulit dilewati oleh orang yang sadar sekalipun, apalagi oleh orang yang sedang mabuk seperti Brian pada saat itu.

Karena Columbus memiliki kamera keamanan paling banyak di kota mana pun di Ohio – lebih dari gabungan Cleveland, Cincinnati, dan Toledo – petugas selanjutnya melihat rekaman dari bar lain untuk melihat apakah kamera di sana dapat menjelaskan bagaimana Brian meninggalkan Ugly Tuna Saloona. Namun, rekaman dari kamera di tiga bar terdekat lainnya tidak menunjukkan jejaknya. 

Pencarian polisi mulai menyebar dari Ugly Tuna Saloona, kadang-kadang ditemani anjing polisi, melihat dari dekat ke jalan, memeriksa tempat sampah dan wadah limbah lainnya, dan bertanya kepada penduduk apakah mereka melihat Brian. Selebaran yang memuat foto dan ciri-ciri khusus Brian pun mulai disebar secara luas. Polisi bahkan membujuk kota Columbus untuk membiarkan mereka masuk ke sistem saluran pembuangan dan mencari Brian di sana, namun tidak ada informasi berguna yang ditemukan. Di apartemen Brian di King Avenue, enam blok dari bar, mobilnya masih terparkir di luar. Di dalam mobil tidak tampak ada hal-hal yang mencurigakan. 

Setelah mencari ke segala arah bermil-mil jauhnya dari Ugly Tuna Saloon tempat Brian terakhir terlihat namun tetap tidak mencium keberadaan Brian, polisi mulai mempertimbangkan kemungkinan lain. Dikarenakan ibu Brian baru saja meninggal, ada spekulasi yang berpendapat bahwa Brian sengaja pergi jauh sementara waktu untuk menenangkan diri. Namun, kepergiannya terbukti permanen. Tidak ada alasan yang jelas muncul untuknya secara sukarela menghilang.

Mereka yang melihat Brian pada malam itu, termasuk ayah Brian, diminta untuk melakukan tes pendeteksi kebohongan. Ayahnya Brian dan Reed bersedia dan telah melakukan, namun Florence menolak untuk menjalani tes itu. 

---

Alexis Waggoner, kekasih Brian, selalu menelepon ponsel Brian setiap malam sebelum tidur setelah Brian menghilang. Biasanya panggilan itu akan tersambung ke pesan suara, namun pada suatu malam di bulan September panggilan Alexis ke ponsel Brian berdering tiga kali. "Aku terus menelepon ponsel Brian untuk mendengar suaranya, karena suara Brian adalah suara terbaik yang pernah aku dengar, meskipun panggilan itu tak pernah diangkat", tulisnya di halaman Myspace miliknya. Cingular, sebuah provider layanan nirkabel yang digunakan Brian, mengatakan bahwa apa yang didengar oleh Alexis kemungkinan adalah kesalahan komputer. Ping dari ponsel Brian terdeteksi di menara seluler di Hilliard yang berlokasi 23km arah barat daya dari Columbus. 

Polisi menerima banyak petunjuk, namun tidak ada satupun yang membuahkan hasil dalam kasus ini. Pada konser Pearl Jam akhir tahun itu di Cincinnati, penyanyi utama Eddie Vedder meluangkan waktu di antara lagu-lagu untuk meminta petunjuk tentang hilangnya Brian, tetapi tidak ada yang berguna juga. Polisi kemudian melakukan penyelidikan di Michigan, Texas, dan bahkan Swedia.

Randy Shaffer, yang baru-baru ini menderita karena kematian istrinya, melanjutkan pencarian putranya sendiri. Seorang paranormal yang berkonsultasi dengannya memberi tahu dia bahwa tubuh Brian berada di air dekat dermaga jembatan. Dia dan Derek, adik Brian, bersama beberapa warga lain yang tertarik dengan kasus ini, membeli waders (sejenis pakaian yang terbuat dari nilon yang berfungsi menjaga tubuh tetap kering saat berada di air) dan menghabiskan banyak waktu luang mereka di sepanjang tepi Sungai Ontangy, yang mengalir melalui Columbus yang berdekatan dengan kampus OSU, mereka mencari tubuh Brian di dekat jembatan, namun semua itu sia-sia. 

Kemungkinan ini juga sempat membuat polisi mempertimbangkan teori pembunuhan Smiley Face yang sangat diperdebatkan. Brian, menurut teori ini, akan menjadi satu-satunya korban pembunuh berantai yang mayatnya belum ditemukan. Polisi Columbus akhirnya menolak hubungan apa pun dengan tersangka pembunuh dalam kasus Brian, mengikuti jejak sebagian besar lembaga penegak hukum, termasuk FBI, yang telah menyelidikinya.


Pada bulan September 2008, selama badai angin kencang, Randy Shaffer sedang membersihkan puing-puing rumahnya di Baltimore. Sebuah cabang tertiup angin dari pohon terdekat dan menimpanya yang mengakibatkan kematian Randy. Tetangga menemukan tubuhnya keesokan paginya dan menelepon polisi.

Setelah berita kematiannya dimuat secara online, sebuah buku belasungkawa diposting. Salah satu tanda tangan di dalamnya berbunyi, "Untuk Ayah, cinta Brian (Kepulauan Virgin AS)". Ini menunjukkan bahwa Brian mungkin telah meninggalkan Columbus untuk hidup baru di tempat lain. Namun, setelah diselidiki lebih lanjut, catatan itu ditemukan telah diposting dari komputer yang dapat diakses oleh publik di Franklin County; dan dianggap sebagai hoax. 

Source: Wikipedia

Sueyoshi (Nama Keluarga)

Aku tidak tahu apakah ini berhubungan dengan hal gaib atau tidak, tapi kisah ini adalah kisah asal-muasal nama keluargaku. 

Ketika kamu pergi ke pedesaan, tidak jarang kamu akan menemukan sekumpulan rumah yang berdekatan, yang mana penghuni salah satu rumah memiliki nama belakang yang sama dengan penghuni rumah yang lain. Di tempat aku tinggal sebagian besar terdiri dari dua atau tiga nama belakang yang sama juga.

Ah, seharusnya aku bilang ini di awal, tapi nama belakangku adalah Sueyoshi. Orang-orang sering salah membacanya sebagai Suekichi, tapi sebenarnya yang tepat adalah Sueyoshi. Nampaknya Sueyoshi adalah nama keluarga yang umum di wilayah Kyushu, tapi aku tidak berasal dari wilayah itu. 

Jadi, penghuni rumah di sekitar rumah kami memiliki nama belakang yang sama, hanya keluarga kami yang memiliki nama belakang Sueyoshi di sekitar situ. Ketika aku masih kecil, aku tidak terlalu memikirkannya. Aku pikir hal itu dilakukan agar kantor pos tidak kesulitan jika harus mengirim surat yang ditujukan pada kami. 

Ketika aku masih duduk di bangku SMP, aku menonton sebuah program acara yang membahas tentang arti nama belakang dan aku dengan santai bertanya kepada kakekku, "darimana asal mula nama belakang keluarga kita?"

Wajah kakek tiba-tiba nampak seperti sedang menghadapi masalah. Kemudian pelan-pelan kakek mulai bercerita setelah beberapa saat diam mempertimbangkan pertanyaanku. 

"Baiklah, lagipula ini ada hubungannya juga denganmu...."

Ini dimulai sejak dahulu, ketika petani masih belum memiliki nama belakang. Desa tempat tinggal leluhur kami terletak di pegunungan, jadi tidak begitu cocok untuk bertani. Orang-orang setiap hari berusaha mencari makanan yang cukup untuk mereka sendiri. 

Selama setahun penuh panen mengalami kegagalan, orang-orang mulai meninggal satu demi satu. Penduduk desa yang putus asa akhirnya meminta dukun mereka berdoa agar mendapat panen yang melimpah untuk mereka.

"Jika kalian ingin panen yang berlimpah," kata dukun itu, "maka ketika ada anak yang lahir secara sah (bukan anak yang lahir di luar nikah) di desa ini, kalian harus memenggal kepalanya, menggantung tubuhnya di pucuk pohon tertinggi di desa ini, dan mengubur kepalanya di tanah beserta tali pusarnya."

Lalu kakek melanjutkan. 

"Sekali kalian memulainya, maka kalian harus terus mengorbankan satu anak yang lahir secara sah untuk setiap generasi. Jika tidak, maka kalian akan mengalami gagal panen lagi, jadi kalian tidak boleh berhenti melakukan pengorbanan," kata dukun memperingatkan.

Tak lama kemudian, leluhur kami adalah keluarga yang pertama melahirkan anak yang sah. Mereka ragu, tentu saja, namun penduduk desa yang lain memaksa mereka untuk melakukan ritual, dengan terpaksa, mereka pun melakukannya. 

Tahun-tahun berikutnya desa mengalami panen paling melimpah yang belum pernah terjadi sebelumnya, tidak ada lagi penduduk desa yang kelaparan. Leluhur kami akhirnya hamil lagi tak lama kemudian, dan mereka hidup dengan damai bersama dengan penduduk desa yang bersyukur atas keadaan desa mereka. 

Namun, ketika anak kedua mereka sudah menikah dan istrinya hamil, si dukun kembali ke desa itu.

"Kalian tidak lupa, kan? Kalian harus melanjutkan ritual yang kalian mulai untuk setiap generasi."

Sekali lagi, para penduduk desa memaksa leluhur kami untuk melakukan ritual, dan akhirnya mereka memenggal kepala bayi itu, menggantung tubuhnya di pucuk pohon tertinggi, dan menguburkan kepalanya di tanah.

Setelah itu,pengorbanan terus berlanjut setiap generasi, namun terlepas baik atau buruknya hal itu, garis keturunan leluhur kami terus berlanjut. Kemudian, beberapa generasi setelah ritual itu dimulai, salah satu leluhur kami memutuskan bahwa mereka tidak mau lagi melakukan ritual itu. Penduduk desa yang lain mencoba membujuk mereka untuk terus melakukan ritual, namun mereka menolak.

Mungkin mereka merasa bahwa kita seharusnya tidak lagi menanggung beban setelah mengorbankan begitu banyak anak selama beberapa generasi, tetapi leluhur kami melakukan persis seperti yang mereka katakan dan mereka menghentikan ritualnya.

Namun penduduk desa yang lain tidak mau begitu saja mengabaikan peringatan si dukun, dan karena leluhur kami memutuskan berhenti melakukan ritual itu, mereka akhirnya pergi berkonsultasi dengan dukun yang lain. 

"Kutukan dari ritual ini sangat kuat dan sulit untuk dihancurkan," kata dukun itu. "Bahkan jika semisal kita bisa menghancurkannya pun, kebencian anak-anak yang dikorbankan akan terus mengganggu keluarga mereka selama beberapa generasi mendatang.”

Setelah berdo'a, sang dukun menebang pohon yang digunakan untuk ritual. Tahun-tahun selanjutnya tidak ada lagi gagal panen, namun anak pertama leluhur kami saat itu meninggal.

Setelah itu, putra sah pertama dari setiap generasi dalam garis keluarga kami lahir dalam keadaan mati atau meninggal saat masih muda. Pada kenyataannya, kakek dan ayahku juga anak kedua, yang berarti bahwa mereka seharusnya memiliki kakak, namun mereka berdua meninggal ketika mereka masih muda.

Aku juga anak pertama dan masih hidup, meskipun belum menikah, namun adikku sudah menikah dan memiliki anak, jadi sekarang kutukannya sudah hilang, kan? 

Okay, kembali ke cerita nama keluarga kami. Jadi, agar leluhur kami tidak pernah lupa akan ritual yang harus leluhur kami lakukan, maka dipilihlah nama Sueyoshi sebagai nama keluarga kami. Sue untuk pucuk pohon yang digunakan untuk menggantung tubuh, dan Yoshi untuk tanah yang digunakan untuk mengubur kepala. 

Itulah dia makna di balik nama keluarga ku. 

Ketika aku masih kecil, keluargaku merawatku dengan cara yang agak berlebihan, tapi setelah berpikir lagi tentang sejarah nama keluargaku, rasanya itu hal yang wajar dilakukan. Meskipun aku ingin beranggapan bahwa rasa sakit di leherku ini cuma perasaanku saja. 

Toh kutukan itu sudah berakhir, ya nggak sih? 

Source: Kowabana