Selasa, 18 Januari 2022

Magagami-sama


Ada gunung di desa tempat tinggal nenekku, dan di gunung itu ada sesuatu yang sangat indah, kolam hijau zamrud. Kolam itu berwarna hijau kebiruan, seperti warna pastel transparan, atau apalah itu namanya, kolam itu sangat indah. Namun, anak kecil dilarang mendekati kolam itu.

Setiap kali aku bertanya kenapa, jawabannya selalu sama. "Anak kecil tidak perlu tahu. Pokoknya jangan kesana". Tapi, anak kecil tetaplah anak kecil, tentu aku penasaran dan ingin tahu lebih banyak tentang kolam itu. Aku bertanya kepada nenekku dan orang-orang dewasa di desa tentang hal unik dari kolam itu. Jika kolam itu memang benar-benar indah maka aku ingin melihatnya secara langsung. 

Anak kecil lain di desa pun berpikiran sama denganku, dan kapan pun aku mengunjungi desa, kami mulai membicarakan tentang mengunjungi kolam itu. Tapi larangan orang dewasa tentang mengunjungi kolam itu benar-benar ketat, ada rumor yang tersebar di kalangan anak-anak, "Jika kamu pergi ke kolam itu, kamu tidak akan pernah kembali".

"Aku dengar kolam itu tidak memiliki dasar, jadi jika kamu jatuh ke dalam kolam itu, kamu akan mati", kata orang-orang, jadi kami tidak pernah merealisasikan rencana kami. 

Namun ketika aku duduk di bangku SMP dan kembali mengunjungi desa nenekku, anak-anak yang dulu pernah bermain denganku saat masih kecil ( Taro, Jiro, dan Hanako. Taro dan Jiro adalah saudara kembar, sedangkan Hanako adalah sepupu mereka) berpikir "kalau memang benar kamu tidak bisa kembali jika mengunjungi kolam itu, bagaimana mungkin orang-orang tahu wujud kolam itu?".

Mereka mulai mengatakan sesuatu yang lebih realistis tentang kolam itu, dan aku setuju. Pada akhirnya kami sampai pada kesimpulan "apakah kolam itu benar-benar ada dan bukan karangan mereka saja?". Dengan kesimpulan itu, kami memutuskan untuk "ayo kita lihat kolam itu".

Kami bertemu di gunung pada pagi hari. Gunung itu sendiri sebenarnya kecil, jadi bahkan jika kami tersesat, kami bisa menemukan jalan pulang sebelum malam tiba, jadi kami tidak akan membuat situasi menjadi serius. Khususnya karena aku, Taro dan Hanako sekarang adalah siswa SMP, dan Jiro yang sudah kelas 2 SMP bahkan belajar beladiri Judo, dia bilang jika keadaan kacau seperti diserang beruang atau anjing liar, maka dia akan membanting dan mengalahkannya, haha. Kata-kata Jiro membuat kami merasa lebih baik, meskipun kami tahu itu tidak mungkin. 

Ketika kami sedang membicarakan hal di atas dan mulai lelah karena sudah berjalan selama sekitar tiga jam, kami menemukan tempat aneh di mana pepohonan tumbuh sangat rimbun. Aku tidak bisa menjelaskan secara detail, tapi pohon di sana sangat banyak, seakan-akan ditanam secara paksa. Bahkan tidak ada jejak hewan terlihat.

"Kolam itu pasti di sana, lihat saja, tempat ini mencurigakan", kata Hanako dari garis depan. Hanako adalah gadis tomboy, meskipun kami yang adalah laki-laki gemetaran melihat tempat itu, dia malah mulai melewati pepohonan itu melalui celah antar pohon di depan kami. 

Tidak ada yang bisa kami lakukan, jadi kami pun mengikutinya. Lalu, sesuai dengan apa yang ada di pikiran kami, ada kolam di sana. Pusat Bumi? Atau apalah itu nama filmnya, kolam itu seperti di salah satu scene di film itu. Faktanya, kolam itu lebih jernih daripada yang aku bayangkan, sangat indah. Tapi, terima kasih kepada pohon-pohon itu, berkat mereka kolam ini terkesan suram, dan gubuk kecil? Di sebelah kolam? Sangat merusak pemandangan. 

Awalnya kami semua sangat senang, kami bahkan mengumpulkan air kolam ke botol yang sudah dipersiapkan Hanako. Namun gubuk kecil itu membuat kami gelisah. Daripada disebut kecil, sebenarnya gubuk itu panjang. Lihat saja, gubuk itu kotor dan menakutkan. Seakan-akan penyihir gunung atau sesuatu yang lain tinggal di sana. 

Lalu Jiro berkata "jika ada penyihir gunung di dalam, maka aku akan membantingnya", lalu ia masuk ke dalam. Kami akan ikut masuk ke dalam, namun tiba-tiba Taro berteriak "tidak, aku tidak akan masuk. Aku akan tetap di sini." Hanako kesal dengan sikap Taro yang pengecut, namun Taro tetap keras kepala memilih di luar. 

"Kalau kamu masuk, maka hanya kamu dan Jiro yang boleh masuk. Ume (namaku) dan aku akan menunggu di luar. Oke?". Untuk beberapa alasan aku memilih untuk menahan diri. Meskipun takut, aku sebenarnya ingin masuk ke dalam gubuk kecil itu, tapi aku khawatir sesuatu yang buruk akan terjadi pada Taro. Aku melambaikan tangan pada Jiro dan Hanako ketika mereka memasuki gubuk lalu duduk di tepi kolam untuk berbicara kepada Taro. 

"Kenapa kamu tidak mau masuk ke dalam? Apa kamu takut?"

"Aku tidak suka gubuk itu, itu menakutkan."

"Lalu kenapa kamu memperbolehkan Hanako dan Jiro masuk ke dalam?"

"Hanako selalu kasar kepadaku, aku benci padanya. Jiro selalu berlagak tangguh, tapi itu cuma kata-kata saja jadi aku juga membencinya. Jadi terserah, jika mereka mati aku tidak peduli."
"Hanako selalu berlagak kuat dan hebat, dia memperlakukan aku seperti sampah. Jiro selalu memukulku. Aku benci mereka berdua. Mereka harus mati. Aku harap mereka mati. Itulah mengapa aku kemari, agar Magagami-sama membunuh mereka untukku."

Di antara kalimat yang keluar dari mulut Taro, ada kata yang asing di telingaku, jadi aku mengulangnya. 

"Magagami-sama? Apa itu?"

"Tidak ada anak-anak di desa tahu tentang dia. Jiro dan Hanako juga tidak tahu, karena mereka idiot. Tapi aku tahu. Magami-sama tinggal di sini. Wanita tua bernama Kichizu yang memberi tahu ku tentang dia. Karena aku pintar."

"Iya, tapi Magagami-sama itu apa?"

"Ume, kamu baik kepadaku, jadi aku akan menolongmu, tapi aku tidak bisa melakukan apapun untuk Jiro dan Hanako. Mereka bodoh, mereka berlagak tangguh, mereka idiot, mereka harus mati. Magagami-sama akan membunuh mereka untukku."

Kata-kata Taro mulai terdengar kasar dan terkesan mengutuk. Di beberapa titik, dia mulai berhenti menyebut Jiro dan Hanako dengan nama mereka. 

Taro terus berbicara, tidak lama kemudian dia mulai tertawa dengan cara yang aneh. "Hyoa hyoa hyoa hyoa hyoa hyoa hyoa hyoa hyoa hyoa hyoa hyoa hyoa hyoa hyoa hyoa hyoa hyoa hyoa hyoa hyoa hyoa hyoa hyoa."

"Hyoa hyoa hyoa hyoa hyoa hyoa hyoa hyoa hyoa hyoa hyoa hyoa hyoa hyoa hyoa hyoa hyoa hyoa hyoa hyoa hyoa hyoa hyoa hyoa hyoa hyoa hyoa hyoa hyoa hyoa hyoa hyoa hyoa hyoa hyoa hyoa hyoa hyoa hyoa."

Itu sangat mengganggu. Dia duduk di sana dengan tangannya melingkar di kedua lututnya namun dengan wajah yang melihat ke arahku ketika tertawa. Semua yang aku lihat ini seakan mengatakan dia mulai gila.

Lalu aku mulai sadar bahwa Jiro dan Hanako sudah lama pergi. Aku ingin menjauh dari Taro, jadi aku berjalan menuju gubuk. "Tetap di sini jangan menyusul mereka!" Taro memanggil. "Sudah terlambat~" Dia tersenyum.

Wajahnya membuat perutku mual, tapi aku mengabaikannya dan masuk ke dalam. Gubuk itu sangat gelap dan ada bau aneh di sana. Baunya seperti bau sesuatu yang terbakar, atau sesuatu yang busuk. Semakin dalam aku masuk semakin mual rasanya, lalu dari ujung ruang di gubuk itu aku mendengar suara tawa yang aneh. "Hyoa hyoa hyoa hyoa hyoa hyoa." Dengan terpaksa aku masuk ke dalam, dan menemukan Jiro dan Hanako sedang duduk di lantai.

"Hyoa hyoa hyoa hyoa hyoa hyoa hyoa hyoa hyoa hyoa hyoa hyoa."
"Hyoa hyoa hyoa hyoa hyoa hyoa hyoa hyoa hyoa hyoa hyoa hyoa."

Mereka tertawa persis seperti Taro di luar. Itu membuatku ketakutan. Aku harus memanggil seseorang. Aku berbalik. Lalu, tepat di depan wajahku.... 

... sepasang mata putih menatap ke arahku. 

Mata putih, seperti mata orang butabuta, seperti membran putih yang menutupi pupil mata. Aku menjerit ketakutan dan mundur ke belakang sampai menyentuh dinding. Ketika tubuhku menyentuh dinding, aku merasakan sesuatu yang lengket. Aku menyentuhnya bagian dinding yang lain, ternyata juga lengket. Kotor kotor kotor kotor! Aku ingin segera keluar, tapi aku tidak bisa bergerak karena mata putih itu, jika aku bergerak maka mereka akan mengejarku, aku sangat ketakutan. 

Mata putih itu terus menatapku. Apa aku akan dikutuk dan mati? Pikirku. Aku tidak ingin melihat mata itu lagi, jadi aku memalingkan wajahku ke kanan. Ketika aku melakukannya, 

"Aku sudah bilang, itu sudah terlambat~"

Wajah Taro masuk setengah ke dalam jendela. Mata Taro sama putihnya seperti mata yang sedang menatapku. 

"Hyoa hyoa hyoa hyoa hyoa hyoa hyoa hyoa hyoa hyoa hyoa hyoa hyoa hyoa hihihihihihihihihihi hyahahahahahaha hyahahahahaha hyoa hyoa hyoa."

Setengah gila, aku lari dari gubuk itu dan menuruni gunung. Dari belakang aku terus mendengar "Hyoa hyoa hyoa hyoa hyoa." Dengan air mata dan isi hidung kental yang meler ke mana-mana aku berlari melarikan diri. 

Ketika aku telah mencapai kaki gunung, ternyata saat itu masih siang. Setelah menuruni gunung, orang pertama yang ku lihat adalah kakek ketiga temanku di sana (Jiro, Taro, dan Hanako). 

"Ume! Ada apa, kau... kau! Kauuuuu!!!!!" Kakek mereka yang selalu ramah berlari ke arahku dengan kecepatan luar biasa, bintik-bintik air liur mengalir dari mulutnya. 

Kami naik ke gunung dan melihat kolam dan gubuk. Cerita Taro. Mata putih dan dinding yang lengket. Ketiga temanku yang menjadi gila. Mereka masih ada di sana. 

Aku menggigit lidahku ketika aku berbicara. Kamu harus menyelamatkan mereka. Mata putih itu apa? Apakah aku juga sudah kena kutukan? Aku berteriak. Kakek mereka memelukku dan berkata "Tidak apa-apa, tidak apa-apa. Cuma kamu, Ume, kamu baik-baik saja. Kamu selamat, kamu baik-baik saja."

Hanya aku? Bagaimana dengan Taro? Cucunya itu Taro, bukan aku, kenapa dia tidak khawatir? Aku mulai panik, tapi kemudian aku sadar tidak ingin agar benda lengket itu menempel pada kakek mereka, jadi aku menarik diri dari kakek. Lalu aku melihat apa yang menempel pada tubuhku. 

Benda lengket ini terlihat seperti mayones, tapi berbintik hitam dan merah. Teksturnya juga seperti mayones, dan baunya menyengat menusuk hidungku. 

Ingatanku tentang kejadian itu berakhir di situ. Hal selanjutnya yang aku tahu adalah aku terbaring di lantai rumah nenekku dikelilingi orang-orang dewasa.

Orang tuaku menangis. Mereka duduk di dekatku tapi tidak mencoba untuk berbicara padaku. Begitu juga dengan orang lain. 

Orang tua Jiro dan Taro juga di sana, mereka menatapku sambil menangis dalam diam. Lalu aku menyadari bahwa aku tidak bisa bergerak. Aku tidak diikat atau apapun, tapi untuk beberapa alasan aku tidak bisa bergerak. 

Aku juga tidak bisa berbicara. Apa ini, pikirku, mulai panik, ketika nenek Taro mendekat dan berbicara padaku. "Ume, lihat mata kananku, mau?"

Nenek Taro kehilangan mata kanannya pada kecelakaan di masa silam, jadi dia menggunakan mata palsu. Aku sudah tahu itu, apa bagusnya melakukan hal itu, tapi aku menuruti perintahnya. 

"Apa? Sama saja nek, fokusnya agak aneh, tapi itu matamu."

Tiba-tiba aku bisa berbicara. Para orang dewasa berseru kegirangan, "aku sangat bersyukur", "dia terselamatkan", mereka semua menangis dan saling berpelukan satu sama lain. 

Orang tuaku memelukku sambil menangis, bahkan orang tua Taro juga menangis. "Kami sangat bersyukur, Ume. Sangat bersyukur." Tapi aku merasa merinding. Meskipun anakmu mungkin menjadi gila, mengapa kamu bahagia dan tidak mengucapkan kata-kata marah kepadaku, pikirku. 

"Bagaimana dengan Jiro, Taro dan Hanako? Apa yang terjadi kepada mereka?" Tanyaku. 

Namun para orang tua menjawab:

"Kamu bicara apa? Mereka ada di rumah. Ume, jika kamu bisa mengambil pelajaran dari kejadian ini, jangan naik ke gunung itu lagi sendirian."

Oh, jadi begitu ya? 

Taro dan yang lainnya mungkin dikurung di gudang nenek mereka atau semacamnya karena mereka sudah gila. Memahami itu, aku tidak mengatakan apa-apa.

Dua atau tiga hari kemudian adalah saatnya aku pulang ke rumah bersama orang tuaku. Aku tidak pernah melihat Taro dan yang lainnya setelah kejadian itu. Bahkan di antara orang-orang yang datang untuk mengantar kepergian kami pun Taro dan yang lain tidak ada.

Nenekku masih sehat sampai sekarang usiaku sudah menginjak 20-an tahun dan aku mengunjunginya saat pergantian musim. Penduduk desa masih ramah, orang tua Taro juga masih bersikap sama padaku, sedangkan Taro dan yang lain masih juga tidak terlihat olehku. 

Ketika aku menanyakan tentang mereka, aku mendengar bahwa Hanako sudah menikah dan pindah ke Tohoku, Taro dan Jiro keduanya mulai bekerja di perusahaan yang sama dan pindah menyeberangi laut. 

Ketika mereka bertiga menduduki bangku SMA, mereka bersekolah di Tokyo. Entah hal itu benar atau tidak, tapi sejak kejadian itu aku tidak pernah melihat mereka lagi.

Aku tidak tahu mata putih dan benda lengket itu apa. Magami-sama itu apa. Di mana Taro dan yang lainnya. Wanita tua Kichizu yang diceritakan Taro itu siapa dan bahkan tidak ada penduduk desa bernama seperti itu. Bertahun-tahun sejak kejadian itu tidak ada yang terjadi kepadaku, tidak ada yang berubah. 

Aku tidak pernah melihat mata putih dan benda lengket itu lagi. Aku bertanya kepada orang tuaku dan penduduk desa tentang hal itu lebih lanjut, tapi mereka hanya bilang: "itu hanya mimpi, kamu naik ke atas gunung sendirian lalu turun dan menderita sengatan panas." "Kolam? Aku tidak tahu apapun tentang kolam, aku baru dengar pertama kali tentang itu."

Ketika aku menanyakan pertanyaan yang sama kepada anak-anak yang biasa membicarakan rumor tentang kolam, mereka dengan tenang menjawab, “aku tidak tahu apa-apa tentang kolam.”

Source: Kowabana

Tidak ada komentar:

Posting Komentar