Kokkuri-san adalah permainan spiritual yang melibatkan pemanggilan roh rubah. Roh rubah ini akan menjawab berbagai pertanyaan yang ditanyakan oleh pemain. Ada beberapa permainan yang serupa dengan Kokkuri-san, seperti Cupid-san dan Angel-sama, namun dalam kasus Kokkuri-san, kamu menggunakan selembar kertas yang dituliskan huruf alfabet Jepang, bersama dengan kata "iya," "tidak," angka 0 sampai 9 dalam bahasa Jepang dan gambar gerbang kuil, lalu di atas kertasnya diletakkan sekeping koin 10 yen.
Setiap orang yang berpartisipasi dalam permainan ini meletakkan ujung jari telunjuk mereka di atas koin tersebut, memanggil Kokkuri-san, dan menanyakan pertanyaan. Koinnya akan bergerak dengan sendirinya untuk menjawab pertanyaan tersebut. Kamu tidak boleh mengangkat ujung jari kamu ketika Kokkuri-san telah dipanggil, dan ketika kamu sudah puas bermain, pastikan kamu meminta Kokkuri-san untuk pergi.
Permainan ini mulai populer pada tahun 1970, banyak insiden bermunculan dari kalangan siswa yang memainkan permainan ini, sehingga banyak sekolah melarang sepenuhnya siswa mereka untuk memainkannya.
Ini adalah salah satu kisahnya:
Dua siswi SMA, si A dan si B, bermain Kokkuri-san di kelas mereka.
"Kokkuri-san, Kokkuri-san, datanglah."
Siswa lain di kelas mereka menyaksikan mereka bermain.
"Siapa yang disukai si O?" "Kapan aku punya pacar?" Mereka menanyakan pertanyaan umum yang sering ditanyakan oleh gadis seusia mereka, dan tentu saja, gadis-gadis lain di kelas itu juga ikut penasaran.
"Siapa kamu?" Si A bertanya, dan tiba-tiba atmosfer di kelas itu berubah. Koin yang disentuh si A dan si B bergerak tidak menentu di atas kertas, tidak berhenti di huruf apapun, mereka ketakutan. Gadis-gadis lain yang menyaksikan takjub melihatnya.
"Suruh dia pergi," teriak seseorang.
"Tolong pergilah sekarang," kata si A, dan koin itu pun berhenti, namun koin itu berhenti di kata "tidak."
"Tolonglah, kau bisa pergi sekarang." mereka memohon lagi dan lagi. Namun koin itu tidak pernah beranjak dari kata "tidak." Ketakutan, si B melepaskan jarinya dari koin itu dan mulai menangis.
"Kau tidak boleh melepas jarimu dari koin," "Kau harus selesaikan permainan ini sekarang," kata gadis yang lain. Dan ketika si A bertanya apa yang harus dilakukan, koin itu bergerak ke huruf "ka" dan "wa."
Ada sungai (kawa) di dekat sekolah. Sambil mencengkram koin itu, si A berlari menuju sungai itu, gadis lain mengikutinya di belakang. Tapi dia tidak tahu harus berbuat apa ketika sudah sampai di sana. Dia melihat ke sekitar, tapi sungai itu terlihat sama saja seperti biasanya.
"Apa aku harus melempar koin ini ke sungai?" dia penasaran. Semua orang berdiskusi tentang apa yang harus dilakukan selanjutnya, ketika tiba-tiba si A merasakan sesuatu merenggut lengan kanannya dan menariknya ke sungai. Kekuatan tak terlihat mencoba untuk menyeret si A, namun gadis lain memegang si A dan mencoba menariknya. Si A semakin dekat ke sungai, menjadi korban tarik tambang yang mengerikan.
"Terbakar.... terbakar.... tangan kananku terbakar," si A berteriak.
"Buang koinnya! Cepat!" teriak gadis yang lain.
"Aku tidak bisa membuka tanganku," si A menangis merengek kecil.
Salah satu gadis mencoba paksa membuka tangan si A, namun sia-sia.
"Tolong aku!"
Bersama-sama para gadis itu berusaha membuka tangan si A dan membuang koin itu ke sungai. Kekuatan tak terlihat yang tadi menarik si A pun tiba-tiba menghilang. Gadis-gadis itu mengatakan kepada si A bahwa tidak ada yang aneh dengan koin itu, koin itu seperti koin 10 yen pada umumnya, namun di telapak tangan si A ada luka bakar berbentuk seperti koin 10 yen.ini akan menjawab berbagai pertanyaan yang ditanyakan oleh pemain. Ada beberapa permainan yang serupa dengan Kokkuri-san, seperti Cupid-san dan Angel-sama, namun dalam kasus Kokkuri-san, kamu menggunakan selembar kertas yang dituliskan huruf alfabet Jepang, bersama dengan kata "iya," "tidak," angka 0 sampai 9 dalam bahasa Jepang dan gambar gerbang kuil, lalu di atas kertasnya diletakkan sekeping koin 10 yen.
Setiap orang yang berpartisipasi dalam permainan ini meletakkan ujung jari telunjuk mereka di atas koin tersebut, memanggil Kokkuri-san, dan menanyakan pertanyaan. Koinnya akan bergerak dengan sendirinya untuk menjawab pertanyaan tersebut. Kamu tidak boleh mengangkat ujung jari kamu ketika Kokkuri-san telah dipanggil, dan ketika kamu sudah puas bermain, pastikan kamu meminta Kokkuri-san untuk pergi.
Permainan ini mulai populer pada tahun 1970, banyak insiden bermunculan dari kalangan siswa yang memainkan permainan ini, sehingga banyak sekolah melarang sepenuhnya siswa mereka untuk memainkannya.
Ini adalah salah satu kisahnya:
Dua siswi SMA, si A dan si B, bermain Kokkuri-san di kelas mereka.
"Kokkuri-san, Kokkuri-san, datanglah."
Siswa lain di kelas mereka menyaksikan mereka bermain.
"Siapa yang disukai si O?" "Kapan aku punya pacar?" Mereka menanyakan pertanyaan umum yang sering ditanyakan oleh gadis seusia mereka, dan tentu saja, gadis-gadis lain di kelas itu juga ikut penasaran.
"Siapa kamu?" Si A bertanya, dan tiba-tiba atmosfer di kelas itu berubah. Koin yang disentuh si A dan si B bergerak tidak menentu di atas kertas, tidak berhenti di huruf apapun, mereka ketakutan. Gadis-gadis lain yang menyaksikan takjub melihatnya.
"Suruh dia pergi," teriak seseorang.
"Tolong pergilah sekarang," kata si A, dan koin itu pun berhenti, namun koin itu berhenti di kata "tidak."
"Tolonglah, kau bisa pergi sekarang." mereka memohon lagi dan lagi. Namun koin itu tidak pernah beranjak dari kata "tidak." Ketakutan, si B melepaskan jarinya dari koin itu dan mulai menangis.
"Kau tidak boleh melepas jarimu dari koin," "Kau harus selesaikan permainan ini sekarang," kata gadis yang lain. Dan ketika si A bertanya apa yang harus dilakukan, koin itu bergerak ke huruf "ka" dan "wa."
Ada sungai (kawa) di dekat sekolah. Sambil mencengkram koin itu, si A berlari menuju sungai itu, gadis lain mengikutinya di belakang. Tapi dia tidak tahu harus berbuat apa ketika sudah sampai di sana. Dia melihat ke sekitar, tapi sungai itu terlihat sama saja seperti biasanya.
"Apa aku harus melempar koin ini ke sungai?" dia penasaran. Semua orang berdiskusi tentang apa yang harus dilakukan selanjutnya, ketika tiba-tiba si A merasakan sesuatu merenggut lengan kanannya dan menariknya ke sungai. Kekuatan tak terlihat mencoba untuk menyeret si A, namun gadis lain memegang si A dan mencoba menariknya. Si A semakin dekat ke sungai, menjadi korban tarik tambang yang mengerikan.
"Terbakar.... terbakar.... tangan kananku terbakar," si A berteriak.
"Buang koinnya! Cepat!" teriak gadis yang lain.
"Aku tidak bisa membuka tanganku," si A menangis merengek kecil.
Salah satu gadis mencoba paksa membuka tangan si A, namun sia-sia.
"Tolong aku!"
Bersama-sama para gadis itu berusaha membuka tangan si A dan membuang koin itu ke sungai. Kekuatan tak terlihat yang tadi menarik si A pun tiba-tiba menghilang. Gadis-gadis itu mengatakan kepada si A bahwa tidak ada yang aneh dengan koin itu, koin itu seperti koin 10 yen pada umumnya, namun di telapak tangan si A ada luka bakar berbentuk seperti koin 10 yen.
Source:
Kowabana
Tidak ada komentar:
Posting Komentar