Rabu, 09 Februari 2022

Sueyoshi (Nama Keluarga)

Aku tidak tahu apakah ini berhubungan dengan hal gaib atau tidak, tapi kisah ini adalah kisah asal-muasal nama keluargaku. 

Ketika kamu pergi ke pedesaan, tidak jarang kamu akan menemukan sekumpulan rumah yang berdekatan, yang mana penghuni salah satu rumah memiliki nama belakang yang sama dengan penghuni rumah yang lain. Di tempat aku tinggal sebagian besar terdiri dari dua atau tiga nama belakang yang sama juga.

Ah, seharusnya aku bilang ini di awal, tapi nama belakangku adalah Sueyoshi. Orang-orang sering salah membacanya sebagai Suekichi, tapi sebenarnya yang tepat adalah Sueyoshi. Nampaknya Sueyoshi adalah nama keluarga yang umum di wilayah Kyushu, tapi aku tidak berasal dari wilayah itu. 

Jadi, penghuni rumah di sekitar rumah kami memiliki nama belakang yang sama, hanya keluarga kami yang memiliki nama belakang Sueyoshi di sekitar situ. Ketika aku masih kecil, aku tidak terlalu memikirkannya. Aku pikir hal itu dilakukan agar kantor pos tidak kesulitan jika harus mengirim surat yang ditujukan pada kami. 

Ketika aku masih duduk di bangku SMP, aku menonton sebuah program acara yang membahas tentang arti nama belakang dan aku dengan santai bertanya kepada kakekku, "darimana asal mula nama belakang keluarga kita?"

Wajah kakek tiba-tiba nampak seperti sedang menghadapi masalah. Kemudian pelan-pelan kakek mulai bercerita setelah beberapa saat diam mempertimbangkan pertanyaanku. 

"Baiklah, lagipula ini ada hubungannya juga denganmu...."

Ini dimulai sejak dahulu, ketika petani masih belum memiliki nama belakang. Desa tempat tinggal leluhur kami terletak di pegunungan, jadi tidak begitu cocok untuk bertani. Orang-orang setiap hari berusaha mencari makanan yang cukup untuk mereka sendiri. 

Selama setahun penuh panen mengalami kegagalan, orang-orang mulai meninggal satu demi satu. Penduduk desa yang putus asa akhirnya meminta dukun mereka berdoa agar mendapat panen yang melimpah untuk mereka.

"Jika kalian ingin panen yang berlimpah," kata dukun itu, "maka ketika ada anak yang lahir secara sah (bukan anak yang lahir di luar nikah) di desa ini, kalian harus memenggal kepalanya, menggantung tubuhnya di pucuk pohon tertinggi di desa ini, dan mengubur kepalanya di tanah beserta tali pusarnya."

Lalu kakek melanjutkan. 

"Sekali kalian memulainya, maka kalian harus terus mengorbankan satu anak yang lahir secara sah untuk setiap generasi. Jika tidak, maka kalian akan mengalami gagal panen lagi, jadi kalian tidak boleh berhenti melakukan pengorbanan," kata dukun memperingatkan.

Tak lama kemudian, leluhur kami adalah keluarga yang pertama melahirkan anak yang sah. Mereka ragu, tentu saja, namun penduduk desa yang lain memaksa mereka untuk melakukan ritual, dengan terpaksa, mereka pun melakukannya. 

Tahun-tahun berikutnya desa mengalami panen paling melimpah yang belum pernah terjadi sebelumnya, tidak ada lagi penduduk desa yang kelaparan. Leluhur kami akhirnya hamil lagi tak lama kemudian, dan mereka hidup dengan damai bersama dengan penduduk desa yang bersyukur atas keadaan desa mereka. 

Namun, ketika anak kedua mereka sudah menikah dan istrinya hamil, si dukun kembali ke desa itu.

"Kalian tidak lupa, kan? Kalian harus melanjutkan ritual yang kalian mulai untuk setiap generasi."

Sekali lagi, para penduduk desa memaksa leluhur kami untuk melakukan ritual, dan akhirnya mereka memenggal kepala bayi itu, menggantung tubuhnya di pucuk pohon tertinggi, dan menguburkan kepalanya di tanah.

Setelah itu,pengorbanan terus berlanjut setiap generasi, namun terlepas baik atau buruknya hal itu, garis keturunan leluhur kami terus berlanjut. Kemudian, beberapa generasi setelah ritual itu dimulai, salah satu leluhur kami memutuskan bahwa mereka tidak mau lagi melakukan ritual itu. Penduduk desa yang lain mencoba membujuk mereka untuk terus melakukan ritual, namun mereka menolak.

Mungkin mereka merasa bahwa kita seharusnya tidak lagi menanggung beban setelah mengorbankan begitu banyak anak selama beberapa generasi, tetapi leluhur kami melakukan persis seperti yang mereka katakan dan mereka menghentikan ritualnya.

Namun penduduk desa yang lain tidak mau begitu saja mengabaikan peringatan si dukun, dan karena leluhur kami memutuskan berhenti melakukan ritual itu, mereka akhirnya pergi berkonsultasi dengan dukun yang lain. 

"Kutukan dari ritual ini sangat kuat dan sulit untuk dihancurkan," kata dukun itu. "Bahkan jika semisal kita bisa menghancurkannya pun, kebencian anak-anak yang dikorbankan akan terus mengganggu keluarga mereka selama beberapa generasi mendatang.”

Setelah berdo'a, sang dukun menebang pohon yang digunakan untuk ritual. Tahun-tahun selanjutnya tidak ada lagi gagal panen, namun anak pertama leluhur kami saat itu meninggal.

Setelah itu, putra sah pertama dari setiap generasi dalam garis keluarga kami lahir dalam keadaan mati atau meninggal saat masih muda. Pada kenyataannya, kakek dan ayahku juga anak kedua, yang berarti bahwa mereka seharusnya memiliki kakak, namun mereka berdua meninggal ketika mereka masih muda.

Aku juga anak pertama dan masih hidup, meskipun belum menikah, namun adikku sudah menikah dan memiliki anak, jadi sekarang kutukannya sudah hilang, kan? 

Okay, kembali ke cerita nama keluarga kami. Jadi, agar leluhur kami tidak pernah lupa akan ritual yang harus leluhur kami lakukan, maka dipilihlah nama Sueyoshi sebagai nama keluarga kami. Sue untuk pucuk pohon yang digunakan untuk menggantung tubuh, dan Yoshi untuk tanah yang digunakan untuk mengubur kepala. 

Itulah dia makna di balik nama keluarga ku. 

Ketika aku masih kecil, keluargaku merawatku dengan cara yang agak berlebihan, tapi setelah berpikir lagi tentang sejarah nama keluargaku, rasanya itu hal yang wajar dilakukan. Meskipun aku ingin beranggapan bahwa rasa sakit di leherku ini cuma perasaanku saja. 

Toh kutukan itu sudah berakhir, ya nggak sih? 

Source: Kowabana

Tidak ada komentar:

Posting Komentar